![]() |
| Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, Taruna Ikrar bersama Tim OGBdexa pada kegiatan PIT & Mukernas HISFARSI 2026. |
OMAIdigital.id- Kualitas obat generik tidak hanya dibuktikan melalui standar produksi yang tinggi, tetapi juga melalui kepercayaan profesi tenaga kesehatan yang menggunakannya untuk menghadirkan pelayanan yang aman, bermutu, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
OGBdexa- termasuk pionir, karena hadir pertama kali- sejak program Obat Generik Berlogo (OGB) diluncurkan Pemerintah Indonesia pada 1989 dengan tujuan memberikan alternatif obat bagi masyarakat, dengan kualitas terjamin, harga terjangkau, serta ketersediaan obat yang cukup di seluruh Indonesia.
Kualitas obat generik dapat dibuktikan melalui proses produksi dan melalui kepercayaan tenaga kesehatan yang menggunakannya dalam praktik pelayanan.
Berangkat dari komitmen tersebut, PT Dexa Medica menghadirkan OGB Merah, Cerminan Obat Generik Berkualitas pada PIT & Mukernas HISFARSI 2026 untuk memperkuat pemahaman apoteker mengenai kualitas obat generik sekaligus mendukung budaya patient safety.
Mengusung tema "Building a Safer Healthcare System: The Pharmacist’s Role in Digital and Performance Innovation", forum yang berlangsung di Pekanbaru, Riau, pada 25-27 Juni 2026 ini diikuti 1.176 apoteker rumah sakit dari seluruh Indonesia.
Forum tersebut menjadi wadah kolaborasi antara regulator, organisasi profesi, akademisi, industri farmasi, dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam memperkuat transformasi pelayanan kefarmasian.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar menegaskan bahwa pengawasan obat saat ini tidak lagi dipandang sebatas pemenuhan regulasi, melainkan telah menjadi bagian integral dari sistem keselamatan pasien.
"Pengawasan obat harus dilakukan secara terintegrasi mulai dari industri farmasi, distributor, fasilitas pelayanan kefarmasian, hingga penggunaan obat oleh pasien. Apoteker memiliki peran strategis untuk memastikan obat yang diterima pasien aman, bermutu, berkhasiat, dan digunakan secara tepat," ujar Taruna Ikrar seperti dikutip di laman web Dexa Group.
Menurut Taruna, penguatan sistem pharmacovigilance, budaya pelaporan efek samping obat, hingga pencegahan medication error membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
Dalam ekosistem tersebut, apoteker rumah sakit memegang peran sentral dalam melakukan monitoring terapi, mengidentifikasi risiko penggunaan obat, mencegah medication error, serta memberikan edukasi kepada pasien.
Ketua PP HISFARSI, Ruslan M. Rauf menegaskan bahwa kolaborasi antara regulator, organisasi profesi, akademisi, industri farmasi, dan fasilitas pelayanan kesehatan menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pada keselamatan pasien.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Rizka Andalucia mengatakan bahwa transformasi pelayanan kefarmasian harus semakin berorientasi pada pemanfaatan teknologi dan inovasi untuk menghasilkan health value yang lebih besar bagi pasien.
Menurutnya, apoteker memiliki posisi strategis untuk memastikan transformasi tersebut benar-benar berdampak pada peningkatan mutu pelayanan kesehatan.
OGBdexa Perkuat Kepercayaan melalui Edukasi
PT Dexa Medica menghadirkan OGB Merah, Cerminan Obat Generik Berkualitas sebagai media edukasi yang memperkuat pemahaman apoteker mengenai kualitas obat generik dan pentingnya keselamatan penggunaan obat dalam praktik pelayanan kefarmasian.
Kontribusi tersebut diwujudkan melalui scientific symposium yang menghadirkan Head of Corporate Quality Audit & Pharmacovigilance Dexa Group, Dwi Nofiarny dengan topik Look-Alike Sound-Alike (LASA), yaitu kemiripan nama maupun tampilan obat yang berpotensi menyebabkan medication error.
Dwi Nofiarny menegaskan bahwa upaya menjaga keselamatan pasien harus dimulai sejak proses riset, pengembangan, produksi, hingga distribusi obat. Komitmen tersebut diperkuat melalui implementasi pharmacovigilance dan pengembangan desain kemasan berbasis human-centered design guna membantu meminimalkan risiko kesalahan penggunaan obat.
Melengkapi sesi ilmiah tersebut, booth interaktif bertema "OGB Merah, Cerminan Obat Generik Berkualitas" menjadi salah satu pusat perhatian peserta. Ratusan apoteker mengikuti berbagai aktivitas edukatif, mulai dari digital games, kuis interaktif, hingga tantangan pengetahuan mengenai terapi dan penggunaan obat yang tepat, termasuk Azithromycin injeksi, Calcitriol, dan Deferiprone.
Melalui pendekatan yang interaktif, PT Dexa Medica menghadirkan pengalaman belajar yang memperkuat keyakinan bahwa obat generik berkualitas merupakan bagian penting dalam mendukung pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas.
Inovasi tersebut mengantarkan PT Dexa Medica meraih penghargaan Juara 1 Best Booth pada PIT & Mukernas HISFARSI 2026. Penghargaan ini menjadi apresiasi atas keberhasilan perusahaan menghadirkan edukasi yang inovatif, interaktif, dan relevan bagi tenaga kefarmasian.
Melalui partisipasi pada PIT & Mukernas HISFARSI 2026, PT Dexa Medica kembali menegaskan komitmennya untuk terus membangun kepercayaan terhadap OGB Merah melalui edukasi, inovasi, dan kolaborasi bersama tenaga kesehatan. Redaksi OMAIdigital.id


















