![]() |
| Wawancara Prof. Raymond Tjandrawinata dengan CNBC Indonesia yang tayang pada 12 Mei 2026. Foto: Dok. Dexa Group |
OMAIdigital- Pasar herbal medicine global menuju USD 600 miliar pada 2030. Indonesia, dengan biodiversitas terbesar kedua di dunia, kini melangkah dengan sains, riset, dan inovasi.
Dunia sudah mengenal Traditional Chinese Medicine dari China dan Ayurveda dari India sebagai kekuatan herbal medicine global.
Kini Indonesia bersiap menorehkan namanya di peta yang sama, dengan modalitas yang tak kalah kuat: keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia, setelah Brazil, dengan lebih dari 30.000 spesies tanaman obat, didukung riset ilmiah berstandar internasional.
Pasar herbal medicine global terus tumbuh menuju USD 600 miliar pada 2030. Indonesia hadir bukan sekadar sebagai pemasok bahan baku, tetapi sebagai produsen obat modern alami berstandar global.
Prof. Raymond R. Tjandrawinata, Business Development and Scientific Affairs Director PT Dexa Medica dan Guru Besar Kehormatan Bioteknologi Farmasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan China dan India bukan hanya kekayaan alam, melainkan keberanian membangun ekosistem kesehatan yang mengintegrasikan herbal medicine ke dalam layanan medis modern secara menyeluruh.
"Indonesia memiliki biodiversitas terbesar kedua di dunia. Langkah selanjutnya adalah membangun sistem kesehatan yang mengintegrasikan obat berbasis biodiversitas alam ke dalam layanan kesehatan formal, sebagaimana China dan India telah membuktikannya," ujar Prof. Raymond, di Jakarta, Senin, 18 Mei 2026 seperti dikutip di laman web Dexa Group.
China membangun TCM sebagai bagian integral dari sistem rumah sakit nasionalnya hingga diterima sebagai global herbal drug. India mendirikan rumah sakit Ayurveda berskala nasional dengan ekosistem riset dan uji klinis yang kuat.
Keduanya membuktikan bahwa kekayaan alam yang didukung sains dan sistem yang terintegratif mampu melahirkan industri kesehatan berskala dunia. Indonesia memiliki seluruh fondasi itu.
Dexa Group Menghadirkan OMAI Fitofarmaka
Selama lebih dari dua dekade, Dexa Group melalui Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) secara konsisten mengembangkan Obat Modern Alami Integratif (OMAI) berbasis sains modern dan evidence-based medicine. Proses ini mencakup riset mendalam, standardisasi bahan alam, hingga uji klinis ketat untuk memastikan efikasi dan keamanan setiap produk yang dihasilkan.
"Kami sudah mengekspor fitofarmaka Indonesia ke beberapa negara seperti Filipina dan Kamboja. Tenaga medis di sana menggunakan dan merekomendasikan produk Indonesia karena standar internasional, efikasi, dan safety-nya sudah terbukti," jelas Prof. Raymond.
Sebagaimana TCM dan Ayurveda berkembang melampaui terapi promotif dan preventif, portfolio OMAI Dexa Group kini mencakup terapi kuratif berbasis sains: imunomodulator berbasis bahan alam untuk penguatan sistem imun, terapi herbal untuk perempuan dengan polycystic ovarian syndrome (PCOS), hingga terapi pendukung pemulihan stroke berbasis biodiversitas Indonesia.
Dexa Group meyakini pengembangan OMAI adalah bagian tidak terpisahkan dari penguatan kemandirian kesehatan nasional sekaligus kontribusi Indonesia pada industri farmasi global. "China dikenal karena TCM. India dikenal karena Ayurveda. Harapannya, dunia mengenal Indonesia karena kemampuan kita mengubah biodiversitas menjadi obat modern yang diterima secara global," tutup Prof. Raymond.
Video Wawancara Silakan di klik: https://www.youtube.com/watch?v=RnRq1zKFlM0


















