![]() |
| Hilirisasi Riset OBA akan optimal dan terus berkembang jika produk jadinya menjadi bagian dari Sistem Jaminan Kesehatan Nasional. |
OMAIdigital.id- Hilirisasi Riset OBA (Obat Bahan Alam) belum dapat disebut tuntas, jika produk tersebut belum masuk dan digunakan secara luas dalam Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Problematika Riset Obat Bahan Alam (OBA) bukan kekurangan bahan, tetapi kekurangan pembuktian. Setidaknya ada tiga tantangan ilmiah krusial yang harus ditaklukkan agar OBA memiliki bukti khasiat, keamanan, dan kualitas produksi sesuai regulasi BPOM.
Karena itu, sudah semestinya proses hilirisasi riset OBAT menjadi Obat Herbal Kategori Fitofarmaka yang sudah terbukti ilmiah khasiatnya tersebut diapresiasi dengan dimasukan ke dalam sistem JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).
Setidaknya ada 3 tantangan ilmiah dalam melakukan riset Obat Bahan Alam (OBA) untuk mendapatkan dukungan data ilmiah tentang khasiat, keamanan, potensi diproduksi dengan standar kualitas sesuai peraturan BPOM.
Menurut Profesor Farmakolog Molekuler, Prof. Raymond Tjandrawinata, "Di balik lahirnya obat-obat berbasis bahan alam, terdapat perjalanan riset yang sarat tantangan ilmiah dan ketekunan."
Tantangan tersebut tidak hanya terletak pada pemilihan bahan, tetapi pada upaya menerjemahkan kompleksitas alam menjadi terapi yang terstandar, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, ungkap Profesor Raymond Tjandrawinata adalah pelopor pengembangan OMAI (Obat Modern Alami Integratif) lebih lanjut.
Mengubah ramuan herbal menjadi Fitofarmaka memerlukan penelitian panjang. Bukan hanya tentang stabilitas, tapi khasiat dan kemananannya pun harus diukur secara ilmiah.
Fitofarmaka adalah obat herbal terstandar (OHT) yang sudah melalui uji praklinik (pada hewan percobaan) dan uji klinik (pada manusia) di mana bahan baku dan produk jadinya sudah distandarisasi.
Prof. Raymond Tjandrawinata menambahkan Indonesia sejak lama dikenal memiliki warisan jamu dan ramuan herbal yang mengakar kuat dalam sejarah.
Relief Candi Rimbi dari era Majapahit hingga naskah Serat Centhini mencatat ratusan jenis tanaman obat dan puluhan resep jamu untuk berbagai keluhan kesehatan. Namun, dalam dunia medis modern, khasiat ramuan tradisional kerap berada di wilayah abu-abu-diakui secara empiris, tetapi belum sepenuhnya terbukti secara ilmiah.
Misalnya meniran (Phyllanthus niruri L.), tanaman obat yang telah lama digunakan masyarakat dan tercatat dalam berbagai naskah historis. Mulai dari catatan herbalist Belanda awal abad ke-20 berjudul Bab Tetuwuhan ing Tanah Hindiya Miwah Dayanipun Kangge Jampi hingga manuskrip Jawa berjudul Dayasarana yang diakui oleh UNESCO.
Pengetahuan turun-temurun kemudian menjadi pondasi riset modern, di mana meniran diteliti secara biomolekuler, distandardisasi, dan diuji secara praklinik serta klinik.
Dari proses inilah lahir produk imunomodulator berbasis bahan alam dengan khasiat yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
"Dalam proses penelitiannya, para saintis mengalami banyak tantangan yang harus dipecahkan hingga Obat Modern Alami Integratif (OMAI) ini dirasakan manfaatnya oleh pasien," kata Raymond dalam keterangan pers, Kamis, 22 Januari 2026.
Download eBook Sains, Hukum & Kebijakan Publik: Klik Disini
Apa Saja Peta Jalan Menghadapi Tiga Tantangan IlmiahRiset Obat Bahan Alam?
1.Tantangan Pemilihan Bahan Kompleksitas Ekstraksi
Group Research Innovation & Invention Manager DLBS, Laurentius Haryanto, S.T., M.Si. menjelaskan beragam tantangan yang dihadapi saat proses penelitian produk obat modern alami integratif.
Dicontohkan, tantangan utama pada pengembangan salah satu obat fitofarmaka antidiabetes. Obat ini berbahan kayu manis dan tanaman bungur.
Tantangannya adalah bagaimana meramu kayu manis dan bungur agar dapat diekstraksi secara bersamaan dan menghasilkan efek sinergis sesuai khasiat yang dituju. Padahal, kedua tanaman ini merupakan dua bahan dengan karakter kimia berbeda.
Proses ini menuntut pendekatan ilmiah yang presisi agar potensi masing-masing bahan tidak saling meniadakan, melainkan saling memperkuat.
2.Tantangan Keamanan
Contoh tantangan lain adalah ketika mengembangkan fitofarmaka untuk obat yang membantu meringankan gangguan lambung. Dalam pengembangan obat ini, fokusnya adalah tantangan keamanan.
Kayu manis diketahui mengandung coumarin, senyawa yang berpotensi toksik jika tidak dikendalikan. Tantangannya adalah menurunkan kadar coumarin hingga berada dalam batas aman, tanpa menghilangkan fraksibioaktif yang berperan penting dalam memberikan khasiat terapeutik yang diharapkan.
Sedangkan, pada pengembangan obat batuk berbahan alam, kompleksitas muncul dari upaya meramu empat bahan sekaligus yakni mahkota dewa, saga, legundi, dan jahe. Masing-masing bahan ala mini memiliki profil senyawa aktif dan karakteristik ekstraksi yang berbeda hingga menjadi produk yang dapat membantu meredakan batuk dan sakit tenggorokan.
Tantangan ini menuntut formulasi yang cermat agar kombinasi bahan tersebut tetap stabil, konsisten, dan memberikan manfaat terapeutik yang optimal.
3.Tantangan Pengembangan Obat Berbahan Hewan
Tantangan yang tak kalah unik ditemui Raymond saat mengembangkan obat fitofarmaka yang dapat membantu melancarkan sirkulasi darah.
Tantangan dimulai dari pencarian spesies cacing tanah untuk bahan baku yang paling sesuai untuk khasiat yang ditargetkan. Obat ini dikembangkan dari fraksi bioaktif cacing tanah jenis Lumbricus rubellus.
Tantangan berlanjut pada proses budidaya serta pengolahan bahan aktif yang sebagian besar berupa protein, sehingga diperlukan teknologi dan kontrol mutu yang ketat untuk menjaga stabilitas, keamanan, dan efektivitas produk hingga sampai ke pasien.
"Tantangan tersebut berhasil dipecahkan bahkan terus mengalami perbaikan dan memberikan kontribusi lebih pada kesehatan pasien dan berkontribusi pada aspek ekonomi," kata Director of Business Development and Scientific Affairs Dexa Medica. Prof. Raymond Tjandrawinata.
Dia menambahkan, obat modern alami integratif atau OMAI terbukti secara klinis mampu menjadi substitusi obat kimia impor. Langkah ini sejalan dengan tantangan kemandirian obat nasional. Hingga kini, sekitar 90 persen bahan baku obat di Indonesia masih bergantung pada impor, ironi bagi negara dengan biodiversitas melimpah.
Produk-produk obat berbahan alam asli Indonesia pun telah menembus pasar global. Termasuk Nigeria, Kamboja, Singapura, Filipina, Myanmar, Vietnam, Mongolia, hingga Timor Leste.
"Penerimaan mereka terhadap OMAI itu lebih tinggi daripada di Indonesia. Ini yang sangat disayangkan," tutup Raymond.
Hilirisasi Riset Obat Bahan Alam, Tuntas Jika Masuk Sistem JKN
Indonesia dikenal sebagai negara mega-biodiversitas. Namun hingga hari ini, sebagian besar hasil riset Obat Bahan Alam (OBA) masih berhenti di laboratorium, laporan penelitian, atau produk terbatas di pasar niche. Hilirisasi riset belum bisa disebut tuntas jika produk tersebut belum masuk dan digunakan secara luas dalam Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Masuknya OBA ke sistem JKN bukan sekadar kalkulasi ekonomi, tetapi indikator keberhasilan ilmiah dan kebijakan kesehatan. Produk yang masuk JKN harus memiliki bukti khasiat, keamanan, dan mutu yang terstandar-sesuai regulasi BPOM-serta relevan dengan kebutuhan layanan kesehatan nasional. Artinya, hanya OBA dengan data ilmiah kuat yang bisa menembus sistem ini.
Di sinilah tantangan utama hilirisasi riset OBA. Banyak riset berhenti pada tahap pra-klinik atau klaim empiris, tanpa kelanjutan menuju uji klinik, standardisasi bahan baku, dan skema produksi berkelanjutan. Tanpa roadmap riset yang terhubung langsung dengan kebutuhan JKN, hasil penelitian berisiko tidak pernah berdampak nyata bagi masyarakat.
Padahal, integrasi OBA ke JKN berpotensi memberi manfaat strategis: memperluas pilihan terapi berbasis kearifan lokal, menekan ketergantungan impor obat, serta mendorong ekosistem industri farmasi nasional berbasis bahan alam. Lebih dari itu, JKN menjadi "mesin akselerasi" agar riset tidak sekadar selesai secara akademik, tetapi selesai secara sosial dan ekonomi.
Karena itu, hilirisasi riset OBA perlu didesain sejak awal dengan orientasi layanan kesehatan. Kolaborasi peneliti, industri, regulator, dan pembuat kebijakan menjadi kunci agar riset diarahkan pada produk yang berpotensi dilakukan uji klinis, memungkingkan secara regulasi, dan diproduksi menjadi produk jadi. Tanpa masuk JKN, hilirisasi hanya menjadi wacana; dengan JKN, riset OBA benar-benar menemukan muara eksosistemnya.
Apalagi Riset OBA yang sudah Kategori Fitofarmaka ini sudah sukses dipercaya para dokter di kawasan ASEAN, dengan meresepkan OMAI. Redaksi OMAIdigital.id



















