![]() |
| PERIXA 2026 Dexa Medica: Menavigasi Era Bio-Digital untuk Menyembuhkan Beragam Populasi. |
OMAIdigital.id- AI memungkinkan analisis data klinis skala besar, Kedokteran Presisi menggeser paradigma dari model "satu ukuran untuk semua" menuju terapi yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan pasien secara individual.
Hal diatas adalah satu key point menarik pada Pertemuan Ilmiah Berkala Dexa 2026 (PERIXA), yang mengusung tema "Menavigasi Era Bio-Digital untuk Menyembuhkan Beragam Populasi" di Jakarta pada Minggu, 6 September 2026.
Simak yuks talk show dengan moderator: Ahli Farmakologi Molekuler Dexa Group Prof. Raymond Tjandrawinata dan Peneliti & Dosen Informatika Kesehatan Anis Fuad, DEA ini.
Pertumbuhan pesat Kecerdasan Buatan (AI) dan teknologi digital mendorong pergeseran signifikan di seluruh ekosistem perawatan kesehatan-mulai dari penemuan obat dan praktik klinis hingga dinamika dokter-pasien.
Direktur Pemasaran PT Dexa Medica, Natalia Maria menyoroti bahwa kemajuan dalam AI dan Kedokteran Presisi membuka peluang untuk memberikan layanan kesehatan yang semakin personal dan berbasis bukti.
"Di era bio-digital, kami memandang peran perusahaan farmasi melampaui sekadar memasok obat-obatan. Kolaborasi sangat penting untuk berperan sebagai mitra strategis dan katalis inovasi, memastikan kemajuan teknologi memberikan manfaat yang lebih luas, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat," ujar Natalia seperti dikutip di laman web Dexa Group.
Mengusung tagline "Beyond the Stethoscope," PERIXA tidak hanya berfungsi sebagai platform untuk membahas kemajuan medis, tetapi juga untuk memperluas perspektif tentang bagaimana teknologi, data, inovasi, dan kolaborasi dapat membentuk masa depan perawatan kesehatan.
Prof. dr. Agus Rizal Ardy Hariandy Hamid, SpU(K), FICRS, PhD, dan Sai Prasad, CTO Google Cloud Indonesia memarpakannya pada talk show yang dimoderatori oleh Ahli Farmakologi Molekuler Dexa Group Prof. Raymond Tjandrawinata dan Peneliti & Dosen Informatika Kesehatan Anis Fuad, DEA.
Profesor Agus membahas integrasi AI dan robotika dalam perawatan klinis-khususnya bagaimana teknologi meningkatkan ketelitian prosedural, memperluas akses ke keahlian medis melalui telemedisin dan telementoring, serta memberikan panduan secara real-time selama prosedur pembedahan.
Beliau menekankan bahwa AI dan robotika harus bertindak sebagai pendukung klinis, bukan sebagai pengganti dokter. Kesiapan infrastruktur, data, sumber daya manusia, regulasi, pendidikan, dan penelitian tetap menjadi faktor penting untuk adopsi teknologi yang bertanggung jawab.
Sai Prasad membahas evolusi AI multimodal dan AI agen dalam dukungan layanan kesehatan. Teknologi ini berpotensi membantu penyedia layanan kesehatan mengintegrasikan beragam sumber data, mengambil informasi penting lebih cepat, meringankan beban administratif, dan membantu pengambilan keputusan klinis.
Namun, kedaulatan klinis tetap menjadi yang terpenting, dengan keputusan medis akhir sepenuhnya berada di tangan para profesional kesehatan.
Dari perspektif industri farmasi, Prof. Raymond menyoroti penggunaan AI dan pendekatan in silico untuk mempercepat pengembangan obat, termasuk Kombinasi Dosis Tetap (Fixed Dose Combinations/FDC). Teknologi ini juga menghubungkan proses R&D secara langsung dengan manufaktur cerdas, memperkuat ketertelusuran dan memungkinkan distribusi obat berbasis data.

Transformasi Hubungan Nakes & Pasien Era AI
Hubungan dokter-pasien yang terus berkembang dikaji oleh dr. Jaka Pradipta, Sp.P(K) Onk, dalam sesi yang dimoderatori oleh dr. Reisa Broto Asmoro.
Dengan AI yang memengaruhi cara pasien mencari informasi sebelum konsultasi, interaksi dokter-pasien bergeser ke arah pengambilan keputusan bersama. Meskipun AI berfungsi sebagai alat bantu informasi yang berguna, validasi dan keputusan klinis masih bergantung pada keahlian medis profesional.
Senada dengan sentimen ini, Dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, menekankan pentingnya menjaga ruang kognitif, empati, dan hubungan antarmanusia dalam perawatan kesehatan.
Seiring dengan semakin canggihnya AI, semakin penting bagi praktisi kesehatan untuk memahami keterbatasan teknologi, melindungi privasi data, menghormati konteks sosial dan budaya pasien, dan memastikan pasien diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar titik data.
Melalui PERIXA 2026, Dexa Medica mendorong dialog lintas disiplin tentang pengembangan AI dan teknologi digital secara bertanggung jawab-yang bertujuan tidak hanya untuk efisiensi operasional, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas, aksesibilitas, keamanan, dan sentuhan manusiawi dalam pemberian layanan kesehatan. Redaksi OMAIdigital.id


















