Kolaborasi Riset Internasional Penemuan Obat Baru dari Biota Laut Indonesia
Tanggal Posting : Kamis, 9 Oktober 2025 | 06:49
Liputan : Redaksi OMAIdigital.id - Dibaca : 343 Kali
Kolaborasi Riset Internasional Penemuan Obat Baru dari Biota Laut Indonesia
Biota Laut Indonesia dapat menjadi sumber potensial penemuan obat baru melalui program hilirisasi yang terpadu. Foto: Dok. BRIN

OMAIdigital.id- Kolaborasi riset Internasional penemuan obat baru dari biota Laut Indonesia digarap oleh tiga negara, sebagai upaya menggali potensi biota laut Indonesia sebagai sumber bahan baku obat baru.

Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat riset biodiversitas laut dunia. Melalui Pusat Riset Vaksin dan Obat (PRVO), Organisasi Riset Kesehatan (ORK) BRIN berkolaborasi dengan Duke-NUS Medical School Singapura dan Fakultas Farmasi University of Florida Amerika Serikat.

Kolaborasi riset ini difokuskan dalam penelitian serta pengembangan produk alam dari laut Indonesia untuk penemuan obat baru. Penandatanganan kerja sama dilaksanakan di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno, Cibinong, Bogor, 2 Oktober 2025.

Produk alam dari biota laut Indonesia dikenal sebagai sumber senyawa bioaktif yang sangat potensial untuk terapi berbagai penyakit, mulai dari kanker, penyakit degeneratif, hingga infeksi.

Melalui kerja sama ini, ketiga institusi menargetkan percepatan riset, penguatan kapasitas peneliti, serta publikasi internasional bereputasi, sekaligus membuka jalan bagi pemanfaatan biodiversitas laut Indonesia dalam industri farmasi modern.

Kepala Pusat Riset Vaksin dan Obat BRIN, Prof. Masteria Yunovilsa Putra menegaskan bahwa kekayaan hayati laut Indonesia masih sangat luas untuk digali.

"Indonesia memiliki keanekaragaman hayati laut yang luar biasa, namun sebagian besar belum tereksplorasi. Melalui kolaborasi ini, kami optimistis dapat menemukan kandidat obat baru dari kekayaan biodiversitas Indonesia yang berpeluang besar mendukung kesehatan global sekaligus memperkuat industri farmasi nasional," jelasnya seperti dikutip di laman web BRIN.

5 Aspek Utama Kolaborasi Strategis

Kolaborasi strategis ini mencakup lima aspek utama: penggalangan pendanaan bersama, penelitian kolaboratif, pembimbingan mahasiswa, pelatihan peneliti BRIN, dan publikasi ilmiah bersama. Dengan format tersebut, kerja sama diharapkan tidak berhenti pada riset akademik, tetapi dapat melahirkan inovasi nyata yang berdampak luas bagi masyarakat.

Sedangkan menurut Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Indi Dharmayanti menekankan pentingnya sinergi untuk menghasilkan luaran konkret.

"Kami berharap kerja sama ini tidak hanya berhenti pada aspek ilmiah semata, tetapi juga dapat diimplementasikan dalam proyek nyata terkait pengembangan produk alami laut. Lebih jauh, kami membuka peluang kolaborasi lintas bidang di masa depan," tegasnya

Dari pihak internasional, Prof. Hendrik Luesch, mewakili Duke-NUS dan University of Florida, menyatakan bahwa kolaborasi ini adalah momentum penting memanfaatkan kekayaan laut Indonesia.

"Indonesia memiliki keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia, dengan lebih dari 13.000 pulau yang menyimpan peluang penemuan luar biasa. Di Florida, kami sudah membuktikan apa yang bisa dicapai dengan jejak laut yang relatif kecil. Kini, bersama Indonesia, kami ingin mengeksplorasi potensi besar ini untuk kepentingan umat manusia, khususnya masyarakat Indonesia," ungkap Prof. Hendrik Luesch.

Sinergi Platform Biomedis Singapura dan Florida dengan Fasilitas Riset BRIN

Prof. Hendrik Luesch menambahkan bahwa platform biomedis yang dimiliki di Singapura dan Florida dapat bersinergi dengan fasilitas riset BRIN. "Harapan kami adalah melahirkan berbagai proyek riset yang mengarah pada karakterisasi produk alam laut, baik secara struktural maupun biologis, sehingga dapat dimanfaatkan optimal untuk kesehatan masyarakat."

Ke depannya kolaborasi ini akan dilakukan dalam tiga tahap besar. Tahap pertama (2025-2029) berfokus pada pencarian biota laut potensial melalui pengambilan sampel, ekstraksi, dan uji bioaktivitas terhadap sel kanker dan saraf.

Tahap kedua (2026-2030) menitikberatkan pada isolasi, pemurnian, dan analisis struktur senyawa bioaktif. Tahap ketiga (2027-2035) difokuskan pada analisis hubungan struktur-aktivitas, uji mekanisme aksi, hingga optimalisasi sintesis senyawa.

Luaran penelitian ditargetkan berupa publikasi di jurnal internasional bereputasi, basis data senyawa aktif, hingga kandidat obat dengan aktivitas antikanker yang siap diuji lebih lanjut secara preklinik dan klinik. Untuk mendukung kegiatan ini, BRIN menyiapkan infrastruktur laboratorium, sementara Duke-NUS dan University of Florida memperkuat dari sisi platform biomedis, kimia sintetis, serta sumber daya manusia.

Kolaborasi ini juga dirancang untuk mendukung pengembangan kapasitas generasi muda peneliti Indonesia. Mahasiswa akan mendapatkan kesempatan bimbingan bersama (joint supervision), pelatihan di laboratorium mitra internasional, hingga akses ke teknologi riset modern. Skema ini diharapkan mempercepat transfer pengetahuan sekaligus memperkuat jejaring riset global.

Urgensi penelitian ini semakin jelas ketika melihat data prevalensi kanker di Indonesia yang terus meningkat, sementara tingkat kesembuhan relatif rendah.

Penelitian berbasis biodiversitas laut dipandang sebagai jalan strategis untuk menjawab tantangan kesehatan tersebut. Senyawa bioaktif laut telah terbukti memiliki aktivitas farmakologis yang tinggi, dengan peluang besar menjadi kandidat obat masa depan.

Dengan sinergi antara BRIN, Duke-NUS, dan University of Florida, riset produk alam laut Indonesia diharapkan tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi dapat menjembatani potensi biodiversitas laut dengan kebutuhan terapi kesehatan modern. Langkah ini sekaligus membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat kedaulatan farmasi nasional dan memberi kontribusi nyata pada kesehatan global. Redaksi OMAIdigital.id


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2024. All Right Reserved

@omaidigital.id

MENULIS sesuai FAKTA, MENGABARKAN dengan NURANI

Istagram dan Youtube: