![]() |
| Jamu sebagai ramuan tradisional Indonesia perlu terus dikembangkan sesuai dinamika perkambangan zaman. |
OMAIdigital.id- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi negara-negara dengan praktik pengobatan tradisional terbaik. Indonesia, dengan kekayaan jamunya, termasuk dalam daftar tersebut. Artikel ini mengulas negara-negara tersebut, termasuk Tiongkok, India (Ayurveda), dan Korea Selatan, serta menjelaskan manfaat dan metode pengobatan tradisional yang mereka gunakan.
Mengenal deretan negara dengan pengobatan tradisional terbaik di dunia menurut WHO. Indonesia ternyata masuk dalam daftar dengan kekayaan jamunya. Yuk, simak!masih menjadi pilihan banyak orang di berbagai belahan dunia, terutama untuk menjaga daya tahan tubuh dan mengatasi penyakit secara alami.
Menurut World Health Organization , obat tradisional adalah pengobatan asli suatu negara yang telah digunakan secara turun-temurun, minimal selama tiga generasi, serta terbukti aman dan bermanfaat.Tiongkok dikenal sebagai salah satu pelopor pengobatan herbal tertua di dunia.
Bahkan, WHO mencatat sekitar 30 hingga 50 persen masyarakatnya masih mengandalkan ramuan tradisional untuk kebutuhan kesehatan. Sejak lebih dari 5.000 tahun lalu, nenek moyang Tiongkok telah meracik berbagai herbal untuk mengatasi gangguan pencernaan, pernapasan, hingga sistem reproduksi.
Pengetahuan ini terdokumentasi dalam kitab kuno seperti Huang Di Neijing, yang kemudian menjadi dasar perkembangan pengobatan tradisional Tiongkok hingga mendunia.Di India, sistem pengobatan tradisional dikenal dengan nama Ayurveda. Ilmu ini sudah ada sejak sekitar 1000 tahun sebelum Masehi dan masih digunakan hingga kini.
Ayurveda menekankan keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Metode ini tidak hanya berfokus pada penyembuhan penyakit, tetapi juga pencegahan melalui gaya hidup sehat, pola makan, serta penggunaan bahan herbal alami.
Korea Selatan juga memiliki sistem pengobatan tradisional yang dikenal sebagai Hangbang atau Korean Oriental Medicine.Beberapa metode yang populer antara lain akupuntur Saam, herbal akupuntur, serta Korean hand acupuncture.
Minuman herbal khas Nusantara ini telah diwariskan secara turun-temurun dan dipercaya memiliki banyak manfaat kesehatan.Sekitar 80 persen tanaman herbal dunia tumbuh di sini, dengan lebih dari 35.000 jenis tumbuhan, di mana sebagian besar berpotensi sebagai obat (Sumber: https://id.headtopics.com/).
Jamu Ramuan Tradisional Terkenal di Dunia
Budaya minum jamu (obat herbal) yang menyehatkan telah menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia, yang dipertahankan hingga saat ini. Meskipun zaman semakin modern, banyak orang Indonesia masih minum jamu untuk pengobatan atau menjaga kebugaran. Hebatnya, jamu Indonesia semakin mendunia, berkat penetapan jamu sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO.
Penetapan budaya kesehatan jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda dibahas pada sesi ke-18 Komite Antar Pemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda di Kasane, Republik Botswana, pada hari Rabu, 6 Desember 2023. Pencapaian ini juga menempatkan budaya kesehatan jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda ke-13 Indonesia.
Menurut halaman indonesia.go.id, UNESCO menganggap budaya kesehatan jamu sebagai sarana ekspresi budaya dan membangun hubungan antara manusia dan alam serta sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) UNESCO.
Sejarah "Jamu" Indonesia
Mencari arti kata "jamu" akan menemukan banyak literatur mengenai makna dan signifikansi pengobatan herbal. Beberapa menafsirkan jamu sebagai gabungan dari "Jawa" dan "ngramu", yang berarti ramuan yang dibuat oleh orang Jawa. Teori lain menyatakan bahwa "jamu" berasal dari bahasa Jawa Kuno "Djampi", metode penyembuhan menggunakan bahan-bahan herbal.
Menurut jalurrempah.kemdikbud.go.id, jamu telah ada sejak zaman Kerajaan Mataram. Hal ini dibuktikan dengan ilustrasi yang mirip dengan pembuatan jamu di berbagai situs, seperti situs arkeologi Liyangan, relief candi, dan prasasti Madhawapura, yang menyebutkan pembuat jamu sebagai "Acaraki".
Perkembangan jamu sebagai minuman dan ramuan herbal berlanjut hingga era kolonial. Menariknya, mengutip dari National Geographic Indonesia, pada abad ke-17, seorang ilmuwan bernama Jacobus Bontius menggunakan jamu untuk mengobati Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterszoon Coen.
Seiring berjalannya waktu, telah ada banyak jenis jamu, tetapi jamu yang paling populer di kalangan masyarakat Indonesia adalah jamu gendong. Disebut "jamu gendong" karena dijual dengan cara membawa keranjang berisi botol-botol jamu. Konon, pencetus istilah "jamu gendong" berasal dari daerah Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah.
Indonesia Kaya Akan Bahan Baku Jamu
Penggunaan jamu sebagai salah satu bahan herbal khas Indonesia, yang telah diakui oleh UNESCO, juga didukung oleh berbagai sumber daya alam, termasuk rempah-rempah khas Indonesia, sebagai bahan baku utama pembuatan jamu.
Menurut data Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (RISTOJA) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia, terdapat 32.013 tanaman obat tradisional dan 2.848 spesies tanaman sebagai bahan baku jamu.
Terbuat dari rempah-rempah alami, tidak mengherankan jika jamu memiliki banyak manfaat bagi tubuh kita. Berdasarkan catatan Serat Centhini (1814-1823), berbagai tanaman obat yang digunakan sebagai bahan baku jamu dapat mengobati beberapa jenis penyakit, seperti demam, penyakit cacingan, cacar, penyakit saraf, batuk, dan bahkan sakit mata.
Melihat catatan sejarah ini, kita harus melestarikan budaya kesehatan jamu sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda asli Indonesia. Apakah kamu sering minum jamu, Sob? (Sumber: https://kemenpar.go.id/)



















