Potensi Garam Lokal Jadi Bahan Baku Industri Farmasi Bernilai Tinggi
Tanggal Posting : Selasa, 3 November 2026 | 06:17
Liputan : Redaksi OMAIdigital - Dibaca : 21 Kali
Potensi Garam Lokal Jadi Bahan Baku Industri Farmasi Bernilai Tinggi
Garam lokal dapat menjadi potensi ekonomi nasional di bidang Farmasi.

OMAIdigital.id- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pengembangan potensi garam lokal untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk garam Indonesia.

Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) BRIN, Nugroho Adi Sasongko mengatakan keberagaman sumber garam di dunia menunjukkan bahwa produk ini memiliki potensi untuk dikembangkan tidak hanya sebagai komoditas kebutuhan sehari-hari, tetapi juga sebagai produk premium.

"Salah satu contohnya adalah garam Himalaya yang dikenal memiliki nilai jual tinggi di pasar. Indonesia juga berpotensi memiliki sumber garam yang kuantitatif yang dapat dikembangkan menjadi produk garam premium bernilai ekonomi tinggi," kata Nugroho seperti dikutip di laman web Niaga Asia.

Hal tersebut disampaikan pada Focus Group Discussion (FGD) bertema "Penguatan Sistem Industri Bahan Baku Obat (Garam Farmasi & Garam Pro Analisis) Dalam Negeri: Menuju Kemandirian yang Berdaya Saing" secara hybrid di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie Serpong, Rabu 28 Oktober 2026.

Nugroho menyebut garam merupakan bahan baku penting bagi berbagai sektor industri, termasuk industri kimia dan farmasi. Nugroho juga menyoroti besarnya kesenjangan nilai ekonomi antara garam tradisional yang diproduksi masyarakat dan garam impor. Harga garam import hampir tiga kali lipat dibandingkan garam tradisional.

Nugroho menambahkan peningkatan nilai tambah garam dapat dilakukan melalui pengolahan dan pengembangan produk untuk memenuhi kebutuhan industri yang lebih spesifik seperti garam farmasi dan garam reagen. Menurutnya, Indonesia berpeluang dalam mengembangkan industri garam tersebut.

"Dengan garis pantai yang panjang dan potensi sumber daya garam yang tersebar di berbagai wilayah, Indonesia perlu memperkuat riset, teknologi pengolahan, dan desain industri agar tidak hanya menghasilkan garam mentah, tetapi juga mampu memproduksi garam dengan spesifikasi khusus untuk berbagai kebutuhan industri," jelasnya.

Lebih lanjut, dia menegaskan pengembangan industri garam tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan jumlah produksi, namun peningkatan mutu, sertifikasi, dan pengolahan menjadi produk bernilai tambah tinggi juga perlu menjadi perhatian. Untuk itu, Nugroho mendorong adanya kolaborasi antara peneliti, pemerintah, dan pelaku industri untuk merumuskan strategi pengembangan garam nasional.

Perkembangan Industri Bahan Baku Obat

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Biofarmasi, dan Bahan Baku Obat (AB3O) Indonesia, Irfat Hista Saputra mengatakan industri bahan baku obat lokal dinilai telah menunjukkan perkembangan yang baik dengan kapasitas produksi yang bahkan bisa diekspor.

Dia menyoroti berbagai tantangan dalam pengembangan bahan baku obat di Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor serta minimnya anggaran maupun fokus pada sektor R&D (Research and Development).

Menurut Irfat, proses sertifikasi dan regulasi dalam industri biofarma dan bahan obat cukup panjang dan rumit yang dapat menghambat pertumbuhan cepat dan inovasi sehingga dibutuhkan proses yang lebih efisien dan modernisasi regulasi yang sangat dibutuhkan.

"Pemerintah telah memulai langkah-langkah untuk mendukung kemandirian, namun regulasi yang efektif dan kebijakan jangka panjang masih perlu diperkuat," jelasnya.

Irfat mengatakan saat ini dua produsen garam farmasi lokal telah mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, terutama untuk produk cairan infus, hemodialisis, serta sejumlah produk farmasi yang menggunakan garam sebagai bahan tambahan (eksipien), seperti obat sirup dan tablet.

Aspek harga juga menjadi pertimbangan utama, oleh karena itu, ketersediaan garam farmasi lokal perlu diimbangi dengan harga yang kompetitif agar dapat diterima oleh industri pengguna.

General Manager PT Garam (Persero), Supriyoto menyampaikan PT Garam sebagai salah satu BUMN berkomitmen untuk mengikuti arahan pemerintah guna mencapai swasembada garam nasional pada tahun 2027.

"Terdapat tiga program utama yang menjadi panduan, yaitu intensifikasi, ekstensifikasi, dan teknologi, di mana target total kebutuhan garam nasional mencapai 5 juta ton," jelasnya.

Supriyoto menjelaskan dalam mendistribusikan garam olahan ke pabrik garam farmasi, tantangan utama yang dihadapi adalah masih adanya kotoran (insoluble matter) karena proses produksi yang berasal dari tambak. Untuk mengatasinya, PT Garam sedang melakukan instalasi mesin pemilah warna (color sorter).

Ke depan, PT Garam berencana memanfaatkan teknologi SWRO (Seawater Reverse Osmosis) dan MVR (Mechanical Vapor Recompression) guna memberikan nilai tambah serta mempermudah proses pengolahan bahan baku agar memenuhi spesifikasi ketat untuk kebutuhan industri garam farmasi nasional.

"Target kami Adalah menyukseskan swasembada garam, tetapi di dalam hal tertentu, kami ingin mencoba memperbaiki kualitas garam yang memang dibutuhkan untuk garam sebagai bahan baku produsen garam farmasi. Mudah-mudahan di tahun 2028 semua bisa terlaksana," harapnya. Redaksi OMAIdigital.id


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2026. All Right Reserved

@omaidigital.id

MENULIS sesuai FAKTA, MENGABARKAN dengan NURANI

Istagram dan Youtube: