![]() |
| Kepala BPOM Taruna Ikrar (kedua dari kiri) dalam pertemuan dengan PT Equilab Internasional di Aula Bhinneka Tunggal Ika Kantor Pusat BPOM, Kamis, 10 September 2026. |
OMAIdigital.id- Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi salah satu lokasi pelaksanaan uji klinis bertaraf global. Potensi tersebut didukung oleh kekuatan akademik, industri farmasi, pemerintah, populasi yang besar dan beragam, serta ekosistem penelitian yang terus berkembang.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar menyampaikan optimisme tersebut saat menerima kunjungan PT Equilab Internasional di Aula Bhinneka Tunggal Ika, Kantor Pusat BPOM, Jakarta, Kamis (10/9/2026). Pertemuan tersebut membahas peluang pelaksanaan uji klinis di Indonesia.
Menurut Taruna, penguatan ekosistem uji klinis membutuhkan kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan ABG (Academia, Business, Government) atau kolaborasi akademisi, dunia usaha, dan pemerintah.
"Dari sisi akademisi, kami memiliki 1.416 perguruan tinggi di Indonesia. Ini potensi yang besar," ujar Taruna dalam pertemuan tersebut, seperti dikutip dari laman RRI.
Besarnya jumlah perguruan tinggi menjadi salah satu modal penting Indonesia dalam membangun kapasitas penelitian dan uji klinis. Potensi tersebut semakin kuat dengan keberadaan lebih dari 270 industri atau perusahaan farmasi yang dapat berperan dalam pengembangan dan pengujian produk farmasi.
Dari sisi pemerintah, BPOM juga memiliki jaringan yang luas. Sebanyak 117 unit kerja BPOM tersebar di tingkat pusat maupun daerah dan dapat menjadi bagian dari penguatan sistem pengawasan serta fasilitasi pengembangan obat dan produk kesehatan.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Taruna menilai tiga unsur tersebut-akademisi, bisnis, dan pemerintah-memiliki posisi strategis dalam membangun ekosistem uji klinis yang kompetitif.
Akademisi berperan dalam menghasilkan pengetahuan, penelitian, serta sumber daya manusia. Industri membawa kebutuhan inovasi, investasi, teknologi, dan pengembangan produk. Sementara pemerintah berperan menciptakan regulasi, pengawasan, fasilitasi, serta iklim yang mendukung penelitian dan inovasi kesehatan.
"ABG" dengan demikian bukan sekadar model kerja sama, tetapi dapat menjadi fondasi untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam ekosistem penelitian kesehatan global.
Pemerintah juga terus mendorong peningkatan kapasitas dan fasilitasi pelaksanaan uji klinis, terutama untuk pengembangan obat-obat baru. Langkah tersebut menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kebutuhan inovasi obat dan teknologi kesehatan.
Peluang dari Populasi dan Ekosistem Riset
Indonesia juga memiliki keunggulan berupa populasi yang besar dan karakteristik masyarakat yang beragam. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai lokasi penelitian klinis.
Peluang ini tidak hanya terbuka bagi perusahaan dalam negeri. Indonesia juga dinilai memiliki prospek untuk menjadi lokasi uji klinis bagi perusahaan farmasi internasional, termasuk perusahaan farmasi asal Korea.
Di sisi lain, kompetensi peneliti dan pusat penelitian di Indonesia terus berkembang. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia, fasilitas penelitian, serta ekosistem uji klinis menjadi modal penting untuk meningkatkan kepercayaan terhadap Indonesia sebagai mitra penelitian global.
PT Equilab Internasional diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, termasuk pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas, serta pengembangan jejaring penelitian uji klinis.
Jika berbagai potensi tersebut dapat diintegrasikan melalui kolaborasi Academia-Business-Government (ABG) yang kuat, Indonesia tidak hanya berpeluang menjadi tempat pelaksanaan uji klinis, tetapi juga dapat berkembang sebagai bagian penting dari rantai inovasi obat dan kesehatan global. Redaksi OMAIdigital.id


















