Kabar Inovasi Produksi Metabolit Sekunder Purwoceng
Tanggal Posting : Minggu, 19 Juli 2026 | 10:26
Liputan : Redaksi OMAIdigital - Dibaca : 279 Kali
Kabar Inovasi Produksi Metabolit Sekunder Purwoceng
Purwoceng- bahan baku herbal yang laris dimanfaatkan untuk afrodisiak, ternyata punya potensi sebagai anti kanker.

OMAIdigital.id- Selain mengembangkan teknik budidaya Puwoceng, dilakukan inovasi menggunakan teknologi kultur kalus dan kultur akar rambut (hairy root culture) untuk menghasilkan metabolit sekunder secara lebih efisien.

Pendekatan ini dipilih karena akar merupakan bagian utama Purwoceng yang mengandung berbagai senyawa bioaktif dan banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat herbal.

Adalah Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Ireng Darwati yang memaparkan bahwa Purwoceng tergolong tanaman yang relatif sulit dibudidayakan di luar habitat aslinya. Tanaman ini tumbuh optimal di dataran tinggi, seperti kawasan Dieng, namun pertumbuhannya menjadi jauh lebih lambat ketika dipindahkan ke lokasi lain.

"Purwoceng masih merupakan tanaman yang langka, padahal manfaatnya sangat banyak dan kebutuhan terhadap bahan bakunya terus meningkat. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang riset bagi kita," ungkap Ireng Darwati seperti dikutip di laman web brin.go.id

Hal diatas, dipaparkannya pada Webinar EstCrops Corner #28 bertema "Purwoceng (Pimpinella pruatjan): Tantangan Konservasi, Ketersediaan Bahan Baku, dan Standardisasi untuk Mendukung Industri Herbal Nasional" pada 14 Juli 2026.

Materi Ireng Darwati bertajuk "Inovasi Teknologi Produksi Metabolit Sekunder Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) melalui Budidaya, Kultur Kalus, dan Kultur Akar Rambut"

Berdasarkan pengalaman penelitian, budidaya di luar habitat alami baru menunjukkan hasil setelah tiga hingga lima tahun.

Kondisi tersebut mengindikasikan masih adanya faktor lingkungan yang perlu diteliti lebih lanjut, seperti kimia tanah antara lain kandungan sulfur mengingat di Dieng banyak mengandung sulfur, keberadaan mikroba tanah, maupun kondisi agroekosistem yang memengaruhi pertumbuhan tanaman.

Tantangan Inovasi Budidaya Purwoceng

Purwoceng memerlukan kondisi lingkungan yang sangat spesifik untuk tumbuh optimal, yaitu pada ketinggian sekitar 2.000-3.000 meter di atas permukaan laut dengan suhu 15-22 derajat Celsius, kelembapan udara tinggi, drainase yang baik, serta tanah dengan pH tanah normal.

Selain itu, benih purwoceng memiliki sifat dormansi sehingga harus melalui proses after-ripening sebelum ditanam agar mampu berkecambah secara seragam.

Menurut Ireng, tantangan tersebut justru membuka peluang pengembangan teknologi budidaya. Salah satu penelitian yang pernah dilakukan pada tahun 2000 - 2010 adalah memanfaatkan teknologi kultur jaringan untuk menyeleksi tanaman yang toleran terhadap suhu lebih tinggi.

Melalui pendekatan tersebut, peneliti berhasil memperoleh purwoceng yang mampu tumbuh pada dataran sekitar 350 meter di atas permukaan laut termasuk dataran.

"Sayangnya penelitian tersebut belum sempat dilanjutkan sehingga bahan tanamnya sudah tidak tersedia lagi. Padahal hasil itu merupakan peluang besar untuk memperluas budidaya purwoceng di luar habitat aslinya," jelasnya.

Inovasi Teknologi Kultur Kalus & Akar Rambut

Selain mengembangkan teknik budidaya juga mengembangkan teknologi kultur kalus dan kultur akar rambut (hairy root culture) untuk menghasilkan metabolit sekunder secara lebih efisien.

Ireng menjelaskan bahwa pendekatan tersebut dipilih karena akar merupakan bagian utama purwoceng yang mengandung berbagai senyawa bioaktif dan banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat herbal.

Teknologi kultur akar rambut dilakukan melalui introduksi Agrobacterium rhizogenes ke jaringan tanaman sehingga mampu menghasilkan akar secara cepat dan stabil tanpa memerlukan hormon pertumbuhan.

Sementara itu, kultur kalus dikembangkan dari jaringan daun maupun tangkai daun untuk menghasilkan biomassa yang kaya metabolit sekunder.

"Melalui teknologi ini, produksi senyawa aktif tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tanaman yang dibudidayakan di lapangan. Produksi dapat dilakukan secara lebih terkontrol di laboratorium," ungkapnya.

Ireng menambahkan bahwa hasil analisis menunjukkan purwoceng mengandung berbagai metabolit sekunder penting, seperti sitosterol, stigmasterol, flavonoid, tanin, alkaloid, dan furanokumarin.

Senyawa-senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas biologis sebagai afrodisiak, antioksidan, antibakteri, antifungi, serta berpotensi dikembangkan sebagai kandidat antikanker.

Sitosterol dan stigmasterol merupakan prekursor pembentukan hormon testosteron sehingga berperan sebagai afrodisiak alami. Sejumlah penelitian juga membuktikan bahwa pemberian ekstrak purwoceng mampu meningkatkan motilitas dan jumlah sperma, termasuk pada ternak sapi jantan untuk mendukung program inseminasi buatan.

Riset Purwoceng di Jerman

Ireng juga mengungkapkan bahwa penelitian yang pernah dilakukannya di Jerman menunjukkan purwoceng memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi serta mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur.

Menurutnya, temuan tersebut membuka peluang penelitian lanjutan untuk mengembangkan purwoceng sebagai kandidat bahan baku antikanker.

"Potensinya masih sangat besar. Kandungan antioksidan, flavonoid, alkaloid, maupun furanokumarinnya memberikan peluang untuk terus diteliti sebagai kandidat bahan baku obat pada masa mendatang," katanya.

Ireng kemudian membandingkan budidaya konvensional dengan teknologi kultur kalus dan kultur akar rambut.

Menurutnya, budidaya di lapangan masih sangat dipengaruhi musim, kondisi iklim, dan keterbatasan lahan dataran tinggi sehingga kandungan metabolit sekundernya cenderung berfluktuasi. Sebaliknya, kedua teknologi kultur tersebut mampu menghasilkan metabolit sekunder yang lebih stabil karena dilakukan pada lingkungan yang terkendali.

Kultur akar rambut memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya tidak memerlukan penambahan hormon, memiliki stabilitas genetik yang lebih baik, waktu produksi lebih singkat, dan berpotensi dikembangkan menggunakan bioreaktor untuk skala industri.

"Kultur akar rambut merupakan salah satu teknologi yang sangat menjanjikan untuk menghasilkan metabolit sekunder secara berkelanjutan, efisien, dan tidak bergantung pada ketersediaan lahan budidaya," ujarnya.

Ireng berharap inovasi budidaya dan kultur in vitro dapat menjadi solusi untuk menjaga kelestarian purwoceng sekaligus memperkuat ketersediaan bahan baku industri herbal nasional.

Menurutnya, pemanfaatan kultur kalus, kultur akar rambut, menggunakan teknologi bioreaktor yang merupakan langkah strategis untuk menghasilkan metabolit sekunder dalam jumlah besar tanpa meningkatkan tekanan eksploitasi terhadap populasi purwoceng di alam.

"Purwoceng merupakan tanaman obat yang sangat berharga. Melalui inovasi teknologi budidaya dan kultur in vitro, kita tidak hanya menjaga kelestarian sumber daya genetiknya, tetapi juga membuka peluang pengembangan industri fitofarmaka nasional yang berbasis riset," ungkapnya. Redaksi OMAIdigital.id


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2026. All Right Reserved

@omaidigital.id

MENULIS sesuai FAKTA, MENGABARKAN dengan NURANI

Istagram dan Youtube: