![]() |
| Produsen Farmasi perlu terus melakukan inovasi produk agar memiliki nilai tambah di pasar nasional dan pasar global. |
OMAIdigital.id- Direktur Ketahanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes RI, Dr. Jeffri Ardiyanto mengatakan Indonesia kini memiliki lebih dari 2.043 industri farmasi, sebagian besar terkonsentrasi di Pulau Jawa, sedangkan wilayah luar Jawa masih minim.
Belanja pemerintah untuk kesehatan nasional mencapai sekitar Rp.200 triliun per tahun, digunakan untuk sektor farmasi termasuk pengadaan obat secara lokal.
"Memang kebutuhan akan obat dan alat kesehatan ini perlu segera diatasi seiring kebutuhan farmasi nasional berkembang karena perubahan pola penyakit," katanya pada "Indonesia Biopharmaceutical Summit (IBS) 2025"- tanggal 6-7 November 2025 di Fakultas Farmasi UGM.
Jeffri Ardiyanto seperti dikutip laman web UGM menyebutkan terjadi pergeseran penyakit dominan dari menular ke tidak menular seperti stroke, jantung, dan diabetes, dalam satu dekade terakhir.
"Produk kita yang telah bisa diproduksi antaranya enoxaparin, insulin glargine, EPO, dan target sedang dikembangkan vaksin rubella, dengue, HPV, dan TB," sebutnya.
Acep Riza Wijayadikusumah, Head of Life Science Product Development Division PT Bio Farma membagi pengalamannya mengembangkan vaksin polio nOPV2, hasil riset sejak 2011.
Menurutnya, ini menjadi bukti bahwa inovasi lokal mampu memberikan dampak global. Acep menjelaskan ide dasar vaksinasi adalah memblokir interaksi antara patogen, baik virus maupun bakteri, dengan sel tubuh manusia.
"Saat patogen masuk ke tubuh, mereka mencari celah untuk menginfeksi. Melalui vaksinasi, kita membentuk antibodi yang mampu menutup jalur masuk itu," terangnya.
Sedangkan Miles Shi, Ph.D., General Manager TechOps PT Etana Biotechnologies Indonesia, memaparkan empat pilar utama yang saling berkaitan ialah regulasi, rantai pasok (supply chain), pengembangan talenta, dan efisiensi biaya.
Miles menegaskan bahwa keempat aspek ini tidak dapat berjalan terpisah dan harus dikelola melalui kolaborasi antara industri, akademisi, dan pemerintah.
"Di kancah akademisi itu masih lingkup riset dan prototipe, sehingga perlu menarik industri dan pemerintah seperti BPOM agar hasilnya dapat diproduksi dan dipasarkan secara legal," ujarnya.
Dekan Farmasi UGM, Prof. Dr. apt. Satibi, M.Si. mengatakan keberagaman ini membuka ruang untuk berbagi pengetahuan lintas bidang dari laboratorium hingga penerapan praktik nyata.
"Bersama dengan PT Etana Biotechnologies Indonesia (Etana) dan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma (USD) sebagai co-host, summit ini membuka peluang kerja sama demi ketahanan kesehatan Indonesia," ucapnya. Redaksi OMAIdigital.id



















