6 Kunci Mengubah Herbal Indonesia Menjadi Industri Obat Masa Depan
Tanggal Posting : Kamis, 24 September 2026 | 03:51
Liputan : Redaksi OMAIdigital - Dibaca : 14 Kali
6 Kunci Mengubah Herbal Indonesia Menjadi Industri Obat Masa Depan
Prof. Raymond Tjandrawinata secara khusus mengupas sinergi kekuatan sains, inovasi, hukum, aspek ekonomi dan sosial dalam hilirisasi obat herbal modern agar mendunia.

OMAIdigital.id- Indonesia kaya raya tanaman herbal: tantangannya adalah mengubah kekayaan hayati menjadi kekuatan berbasis sains yang memberikan nilai tambah dan dampak nyata bagi kesehatan masyarakat Indonesia, dan dunia.

Sebagai case study- kali ini Prof. Raymond R. Tjandrawinata- yang memimpin saintis handal di Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) Dexa Group- secara khusus memaparkan "6 Kunci Mengubah Herbal Indonesia Menjadi Industri Obat Masa Depan."

Masa depan obat herbal Indonesia, memerlukan sinergi dari banyak aspek, antara lain: Sains, Inovasi, Hukum, Etika, Ekonomi dan Sosial.

Dalam pengembangan Obat Modern Alami Integratif (OMAI)- dirancang dengan memiliki karakteristik khusus yang membedakannya secara radikal dari obat herbal berbasis empiris semata.

Berikut 6 Kunci Masa Depan Obat Herbal Indonesia:

1. Riset Berbasis Biologi Molekuler ("Omics")

Menurut Prof. Raymond - dengan latar belakang sebagai ahli rekayasa genetika dan farmakolog molekuler. Riset OMAI tidak lagi melihat tanaman obat secara makro, melainkan menekitinya hingga tingkat seluler dengan memanipulasi dan menganalisis DNA, RNA, serta metabolit tanaman obat menggunakan sistem:

  • Genomics: Memetakan gen tanaman yang berpotensi menghasilkan senyawa obat.
  • Proteomics: Mempelajari protein spesifik yang berinteraksi dengan penyakit di dalam tubuh manusia.
  • Metabolomics: Menganalisis hasil metabolisme seluler untuk memastikan efikasi molekul.

2. Teknologi Penapisan Mandiri: T-CEBS

Menggunakan teknologi mutakhir yang dipatenkan bernama T-CEBS (Tandem Chemistry Bioassay System).

Teknologi ini berfungsi sebagai alat penapis (screening) modern untuk menguji ribuan fraksi tanaman secara cepat, guna menemukan kandidat molekul terbaik yang paling aktif melawan penyakit tertentu.

3. Proses Ekstraksi Tingkat Tinggi (Advanced Fractionation)

Tidak sekadar mengekstrak tanaman secara kasar (seperti ekstrak total pada obat herbal berbasis empiris), DLBS Dexa Group menggunakan Advanced Fractionation Technology.

Teknologi ini mampu memurnikan zat dalam tanaman, membuang zat yang tidak diperlukan (atau berpotensi toksik), dan hanya mengambil fraksi spesifik (fraksi bioaktif) yang memiliki efikasi untuk terapi pengobatan.

4. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) > 80% & Ekspor ke Pasar Global

Salah satu idealisme dari hilirisasi OMAI adalah ketahanan kesehatan nasional. Produk-produk OMAI yang diproduksi terbukti memiliki nilai TKDN di atas 80% karena memanfaatkan 100% biodiversitas lokal Indonesia (nabati dan hewani). Hebatnya, produk lokal ini tidak hanya berjaya di dalam negeri tetapi telah diekspor ke lebih dari 10 negara di 3 benua.

5. Substitusi Obat Kimia dengan Efikasi Setara

Positioning OMAI dirancang sebagai substitusi atau pendamping obat kimia, bukan sekadar suplemen tambahan. Melalui uji pra-klinis dan uji klinis yang ketat sesuai standar BPON dan GMP Internasional, OMAI memiliki Evidence-Based Medicine yang efikasinya setara dengan obat-obatan konvensional (kimia), sehingga dipercaya dan diresepkan secara formal oleh para dokter spesialis di banyak negara.

6. Integrasi Multidisiplin (Hukum, Farmasi, & Etika)

Hilirisasi OMAI oleh DLBS yang dipimpin Prof. Raymond adalah mengintegrasikan aspek penemuan sains, perlindungan hukum komersial (paten), dan etika medis. OMAI tidak hanya diteliti di laboratorium modern, tetapi juga diposisikan agar obat herbal masuk ke sistem kesehatan formal nasional agar dapat dinikmati masyarakat luas melalui JKN.

Bahkan sudah diresepkan di banyak negara oleh ribuan dokter di kawasan ASEAN. Masa depan obat herbal Indonesia- akan semakin tumbuh pesat jika Indonesia segera memberikan policy obat herbal yang sudah melalui uji klinis, efikasinya dibuktikan secara ilmiah dimasukkan dalam sistem JKN- BPJS Kesehatan. Redaksi OMAIdigital.id


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2026. All Right Reserved

@omaidigital.id

MENULIS sesuai FAKTA, MENGABARKAN dengan NURANI

Istagram dan Youtube: