![]() |
| Teaching Factory dapat dijadikan sarana untuk pembelajaran di likungan akademik untuk mendorong hilirisasi Riset OBA. |
OMAIdigital.id- Kepala BPOM, Taruna Ikrar meresmikan Gedung Baru Fakultas Farmasi Universitas Pancasila (FFUP) dan Pancasila Pharmaceutical Industry (PPI) yang berlokasi di kawasan FFUP, Jakarta Selatan, 13 Desember 2025.
Fasilitas PPI yang diresmikan hari ini merupakan fasilitas pendidikan yang dirancang untuk menjawab kebutuhan penguatan sumber daya manusia dan inovasi farmasi nasional.
PPI dibuat dengan konsep teaching factory berstandar industri yang mengintegrasikan pembelajaran dengan simulasi industri nyata dengan riset terapan dan hilirisasi produk farmasi, khususnya di bidang obat bahan alam.
Fasilitas tersebut dibangun dengan mengacu pada standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Fasilitas ini mencakup area produksi sediaan padat, semi-solid, dan cair; pusat laboratorium riset dan pengujian mutu; pusat uji kompetensi apoteker berbasis objective structured clinical examination (OSCE) dan computer-based test (CBT), hingga fasilitas uji praklinik in vivo sesuai Peraturan BPOM Nomor 10 Tahun 2022 tentang Pedoman Uji Toksisitas Praklinik secara In Vivo.
Kepala BPOM menyampaikan apresiasi atas penguatan ekosistem pendidikan dan industri farmasi berbasis riset yang telah diupayakan FFUP.
"Kampus merupakan pusat lahirnya inovasi dan riset unggul yang harus dihilirisasi agar memberi dampak nyata bagi masyarakat dan perekonomian nasional. Kehadiran Pancasila Pharmaceutical Industry menunjukkan komitmen Universitas Pancasila menuju arah tersebut," ujar Taruna Ikrar seperti dikutip di laman web BPOM.
Taruna Ikrar menegaskan bahwa pengembangan industri farmasi yang dimulai dari obat bahan alam merupakan langkah strategis di tengah kekayaan biodiversitas Indonesia.
"Potensi obat bahan alam Indonesia sangat besar, tetapi yang telah naik kelas menjadi obat herbal terstandar dan fitofarmaka masih terbatas. Melalui kolaborasi academia-business-government, riset kampus harus didorong menjadi produk bernilai ekonomi dan berdaya saing global," katanya.
Dekan FFUP, Syamsudin menegaskan bahwa kehadiran Gedung Baru dan PPI merupakan lompatan strategis dalam penguatan pendidikan dan riset berbasis industri.
"Fasilitas ini kami rancang agar mahasiswa dan peneliti dapat belajar melalui pengalaman nyata, sekaligus mendorong hilirisasi hasil riset dosen dan mahasiswa sehingga memberi manfaat bagi masyarakat dan industri farmasi nasional," ujarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Pancasila, Adnan Hamid menyampaikan bahwa peresmian Gedung Baru tersebut bukan sekadar penambahan fasilitas fisik, melainkan penguatan ruang kolaborasi strategis antara perguruan tinggi dan industri.
Universitas Pancasila, menurutnya, berkomitmen penuh untuk terus mendukung Fakultas Farmasi dalam melahirkan inovasi yang berdampak dan berkontribusi bagi kemajuan industri farmasi Indonesia.
Peresmian gedung ini dirangkaikan dengan Seminar Nasional Digitalisasi dan Inovasi Bisnis Farmasi dengan tema besar "Strategi Menuju Industri Farmasi yang Kompetitif dan Adaptif di Era Digital".
Seminar ini menghadirkan pemangku kepentingan dari unsur regulator, akademisi, dan industri. Forum tersebut menjadi ruang diskusi mengenai transformasi industri farmasi, digitalisasi regulasi, serta penguatan ekosistem inovasi berbasis kolaborasi.
Taruna Ikrar menyampaikan paparan bertajuk "Transformasi Digital BPOM: Menuju Regulasi yang Responsif, Akurat, dan Transparan".
Kepala BPOM menjelaskan bahwa era digital membawa tantangan yang semakin kompleks bagi industri farmasi. Tantangan utamanya adalah pada percepatan inovasi dan digitalisasi produk, termasuk penjualan melalui platform digital. Namun, regulasi harus tetap dapat memberikan jaminan terhadap keamanan, manfaat, dan mutu produk yang beredar di masyarakat.
"BPOM, dalam hal ini, mendukung melalui kebijakan-kebijakan yang sifatnya tidak menghambat, tetapi mengarahkan transformasi industri agar lebih berkualitas dan siap bersaing secara global," tuturnya.
Taruna menambahkan bahwa transformasi pemerintah digital BPOM dibangun di atas sinergi 3 pilar utama. Pilar pertama, yaitu People atau sumber daya manusia sebagai roda penggerak utama transformasi digital organisasi. Pilar kedua, yaitu Process yang terdiri dari dari kebijakan, sistem informasi, serta manajemen data dan informasi, sebagai landasan operasional organisasi.
Pilar ketiga, adalah Technology, yang berfungsi sebagai katalisator untuk memperkuat interoperabilitas antarinstansi serta sistem keamanan siber dalam menghadapi tantangan digital.
Bersamaan dalam rangkaian kegiatan hari ini, Kepala BPOM melakukan penanaman pohon di area FFUP. Ia menanam pohon kelor yang merupakan salah satu jenis tanaman kekayaan alam Indonesia dengan nutrisi tinggi. Kelor memiliki aktivitas antioksidan dan banyak dimanfaatkan sebagai obat bahan alam untuk menjaga kesehatan jantung dan kesehatan bagi ibu menyusui.
Rangkaian kegiatan peresmian fasilitas teaching pharmaceutical industry dan seminar nasional hari ini merupakan bentuk komitmen dari sektor akademisi dalam memperkuat tridarma perguruan tinggi melalui pendidikan berbasis praktik industri, riset yang berdampak, dan inovasi berorientasi hilirisasi.
Sinergi antara BPOM, perguruan tinggi, dan dunia usaha diharapkan semakin terbangun dengan kuat agar mampu mempercepat kemandirian obat nasional serta memperkuat posisi Indonesia di ekosistem farmasi global. Redaksi OMAIdigital.id



















