![]() |
| Produk OMAI merupakan program hilirirasi riset obat bahan alam asli Indonesia melalui uji pra klinis dan uji klinlis sehingga memiliki evidence based tentang khasiat, dan kualitas. |
OMAIdigital.id- VEPROLIN adalah Obat Modern Alami Integratif (OMAI) yang mengandung fraksi bioaktif Proliverenol untuk membantu menjaga dan memperbaiki kesehatan fungsi hati.
Obat herbal ini bekerja melalui mekanisme antiinflamasi dan reparatif untuk melindungi sel hati dari kerusakan akibat radikal bebas atau zat toksik. Ekstrak mahkota dewa yang digunakan telah teruji secara klinis sebagai pendukung terapi pada gangguan hepatik.
Dengan komposisi sebagai berikut: tiap kaplet mengandung Proliverenol (ekstrak Phaleria macrocarpa pericarpium) 500 mg.
Data Nomor Ijin Edar (NIE) VEPROLIN di BPOM (https://cekbpom.pom.go.id/produk-herbal-terstandar):
• Obat Herbal Terstandar, HT202500951, Terbit: 13-06-2025, VEPROLIN, Kemasan : Dus, 5 strip @ 6 kaplet, PT DEXA MEDICA, Kota Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia.
• Obat Herbal Terstandar, HT222501081, Terbit: 30-06-2022, VEPROLIN, Kemasan : Dus, Botol @ 30 & 50 kaplet, PT DEXA MEDICA, Kota Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia
Business Development and Scientific Affairs Director PT Dexa Medica, dan Direktur Eksekutif Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS), Prof. Raymond Tjandrawinata, PhD, JSD, LLM, FRSPH menjelaskan bahwa Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) merupakan gangguan hepatik progresif yang kini menjadi bagian sentral dalam spektrum sindrom metabolik global.
Perkembangannya yang kompleks melibatkan resistansi insulin, inflamasi kronis, stres oksidatif, serta aktivasi jalur fibrogenik.
"Seiring dengan pemahaman molekuler yang semakin mendalam, terapi presisi berbasis agonis farnesoid X receptor (FXR), peroxisome proliferator-activated receptor (PPAR), incretin mimetics, dan teknologi RNA mulai dikembangkan, meski masih menghadapi tantangan dari sisi efek samping dan keterjangkauan," jelasnya seperti dikutip di Jurnal Farmasi dan Kedokteran MEDICINUS Vol. 38 No. 7 (2025).
Dalam konteks ini, VEPROLIN mengandung Proliverenol, fraksi bioaktif dari Phaleria macrocarpa, menawarkan potensi sebagai standardized herbal drug ajuvant dengan efek antiinflamasi, antifibrotik, dan reparatif yang telah dibuktikan secara preklinik. Kajian ini menyoroti pentingnya strategi terapeutik multimodal yang integratif, berorientasi presisi, dan berkelanjutan.
Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD), merupakan salah satu kondisi hepatik paling menonjol pada abad ke-21, ditandai dengan akumulasi lipid intraseluler dalam hepatosit, tanpa adanya konsumsi alkohol yang signifikan sebagai etiologi.
Penyakit ini tidak lagi dapat dianggap sebagai entitas hepatik lokal, melainkan telah menjadi komponen sentral dalam spektrum sindrom metabolik global, yang berkorelasi erat dengan meningkatnya prevalensi obesitas abdominal, resistansi insulin, serta diabetes melitus tipe 2.
Menurut telaah sistematis terbaru oleh Younossi et al. (2023), prevalensi global NAFLD pada populasi dewasa diperkirakan mencapai lebih dari 30%, dengan tren peningkatan paling tajam terjadi di negara-negara berkembang yang sedang mengalami transisi epidemiologis dari penyakit infeksius ke penyakit degeneratif kronis.
Sekitar 20-30% dari jumlah tersebut diperkirakan mengalami progresi menuju bentuk penyakit yang lebih aktif secara histologis dan klinis, yakni non-alcoholic steatohepatitis (NASH), yang dapat berkembang lebih lanjut menuju fibrosis hati, sirosis, dan bahkan hepatocellular carcinoma (HCC) jika tidak ditangani secara tepat (Chalasani et al., 2018).
Dalam konteks molekuler, patogenesis NAFLD bersifat multifaktor dan saling berinteraksi. Proses ini dimulai dengan resistansi insulin sistemik yang meningkatkan aliran asam lemak bebas ke dalam hepatosit serta merangsang sintesis denovo lipogenesis melalui jalur yang melibatkan sterol regulatory element-binding protein-1c (SREBP-1c) dan carbohydrate-responsive element-binding protein (ChREBP).
Akumulasi lipid yang abnormal tersebut berkontribusi terhadap terjadinya stres oksidatif mitokondria, gangguan homeostasis redoks, yang pada akhirnya memicu inflamasi kronis serta kerusakan hepatoseluler. Secara simultan, disfungsi pada mikrobiota intestinal turut memainkan peran penting, dengan meningkatkan permeabilitas mukosa usus (leaky gut) yang memfasilitasi translokasi lipopolisakarida (LPS) ke sirkulasi portal.
Keberadaan LPS akan mengaktivasi jalur toll-like receptor 4 (TLR4) dan faktor transkripsi nuclear factor kappa B (NF-κB), yang pada gilirannya menginduksi produksi sitokin proinflamasi seperti tumor necrosis factor (TNF)-α dan interleukin (IL)-1β, serta faktor fibrogenik seperti transforming growth factor (TGF)-β1. Selain itu, penurunan ekspresi adiponectin sebagai adipokin antiinflamasi turut memperburuk inflamasi dan fibrosis (Doulberis et al., 2017; Polyzos et al., 2016).
Progresi dari steatosis sederhana menuju NASH dan fibrosis ditandai oleh aktivasi sel stellata hati (hepatic stellate cells) yang berdiferensiasi menjadi miofibroblas dan mensekresikan matriks ekstraseluler secara berlebihan. Jalur TGF-β/Smad merupakan sumbu sentral dalam aktivasi fibrogenik ini, dengan peningkatan ekspresi alpha smooth muscle actin (α-SMA) serta kolagen tipe I yang memperberat remodeling jaringan dan mengganggu arsitektur hepatik.
Proses ini tidak hanya mencerminkan patofisiologi lokal, tetapi juga memperbesar risiko kardiometabolik dan mortalitas akibat komplikasi sistemik (Tilg and Moschen, 2010).
Pendekatan Empirik Menuju Terapi Presisi
Seiring dengan semakin dalamnya pemahaman terhadap jalur molekuler terkait progresivitas NAFLD, pengembangan terapi terkini telah bergeser dari pendekatan empirik menuju terapi presisi berbasis mekanisme.
Salah satu kandidat terdepan dari terapi presisi tersebut adalah agonis farnesoid X receptor (FXR), yaitu obeticholic acid yang berfungsi menghambat sintesis asam empedu dan mengurangi peradangan hepatik melalui aktivasi jalur small heterodimer partner (SHP)-FXR.
Studi fase III (REGENERATE) menunjukkan perbaikan histologis fibrosis tanpa perburukan NASH pada proporsi pasien yang signifikan, meskipun terapi ini dihadapkan pada hambatan efek samping seperti pruritus dan peningkatan kadar LDL yang pada akhirnya membuat Food and Drug Administration (FDA) menunda persetujuan untuk penggunaannya secara luas (Younossi et al., 2019).
Di sisi lain, pengembangan agonis kelompok peroxisome proliferator-activated receptors (PPARs) juga mendapatkan momentum. Elafibranor, suatu dual PPAR-α/δ agonist, telah menunjukkan resolusi histologis NASH tanpa perburukan fibrosis dalam studi fase II (Ratziu et al., 2016), sedangkan lanifibranor, pan-PPAR (α/δ/γ) agonist, menunjukkan hasil yang lebih meyakinkan dalam uji klinik terkontrol fase IIb, termasuk penurunan skor NAFLD activity score (NAS) dan peningkatan derajat fibrosis (Francque et al., 2021).
Terapi yang menargetkan sumbu inflamasi juga tengah dikembangkan. Salah satunya adalah cenicriviroc, dual CCR2/CCR5 antagonist, yang bertujuan menghambat infiltrasi monosit dan aktivasi sel stellata. Studi fase II (CENTAUR) menunjukkan manfaat terhadap perbaikan fibrosis, namun studi lanjutan fase III (AURORA) gagal menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan plasebo (Friedman et al., 2018).
Selain itu, incretin mimetics atau glucagon-like peptide-1 (GLP-1) receptor agonist juga menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Liraglutide dan semaglutide, dua agen utama dari golongan obat ini, tidak hanya efektif dalam menurunkan berat badan dan meningkatkan sensitivitas insulin, namun juga dapat memperbaiki parameter histologis NASH, sebagaimana dibuktikan dalam uji klinik terkontrol fase II dan III (Armstrong et al., 2016; Newsome et al., 2021.
Pendekatan Terapi Integratif

Di luar terapi farmakologi konvensional, pendekatan molekuler terbaru mencakup teknologi berbasis RNA tengah banyak dikembangkan. Intervensi ini meliputi small interfering RNA (siRNA) dan antisense oligonucleotides (ASOs) yang menargetkan ekspresi gen spesifik seperti patatin-like phospholipase domain-containing protein 3 (PNPLA3) atau micro-RNA-122 (miR-122), yaitu dua elemen genetik yang terbukti berkorelasi dengan kerentanan terhadap NAFLD dalam populasi tertentu.
Studi awal telah menunjukkan penurunan ekspresi target secara signifikan, namun efektivitas jangka panjang dan keamanan sistemik dari pendekatan ini masih menjadi subjek investigasi klinis lebih lanjut (Jiang et al., 2023).
Di tengah kompleksitas terapeutik dan keterbatasan efektivitas terapi tunggal, pendekatan integratif yang memadukan modifikasi gaya hidup dengan intervensi farmakologi dan fitoterapi mulai mendapatkan perhatian.
Salah satu standardized herbal drug yang kini tengah dikaji secara intensif adalah VEPROLIN, fraksi bioaktif dari ekstrak buah Phaleria macrocarpa (mahkota dewa) yang mengandung senyawa aktif bernama Proliverenol.
Berdasarkan studi eksperimental oleh Berlian et al. (2016), fraksi etil asetat dari buah ini terbukti memiliki efek antifibrotik yang signifikan pada model tikus yang diinduksi carbon tetrachloride (CClâ‚„), ditandai dengan penurunan alanine aminotransferase (ALT), aspartate aminotransferase (AST), alkaline phosphatase (ALP), serta ekspresi α-SMA dan kolagen tipe I.
Efek ini dimediasi oleh peningkatan aktivitas antioksidan endogen dan penurunan ekspresi TGF-β1 serta Smad3. Studi preklinik lanjutan menggunakan kultur LX2, cell line stellata hati manusia, menunjukkan konsistensi terhadap hasil penanda fibrosis dan peningkatan struktur histologis hati.
Lebih lanjut, Berlian et al. (2016), Nailufar F, et al. (2017) dan Sundari et al. (2018) mengkonfirmasi bahwa Proliverenol menurunkan ekspresi TNF-α dan NF-κB, serta menghambat aktivasi caspase-8 yang memperlihatkan potensinya sebagai agen imunomodulator dan antiapoptotik.
Proliverenol yang terkandung dalam VEPROLIN juga diketahui dapat meningkatkan ekspresi apurinic/apyrimidinic endodeoxyribonuclease 1 (APEX1), sebuah enzim penting dalam perbaikan DNA pada sel-sel hati yang mengalami stres oksidatif, sehingga mendukung perbaikan molekuler dan restorasi fungsi hepatoseluler.
Berbeda dengan molekul kecil konvensional lain yang umumnya bersifat jalur-tunggal, VEPROLIN menunjukkan spektrum farmakodinamika yang luas dan profil keamanan yang menjanjikan, dengan toksisitas yang rendah pada studi toksikologi praklinik.
Dengan demikian, posisi VEPROLIN sebagai calon standardized herbal drug sah secara ilmiah dan secara regulatif menjadi semakin relevan, terlebih dalam konteks meningkatnya kebutuhan akan terapi alternatif yang evidence-based dan kompatibel dengan prinsip terapi presisi.
Dalam horizon terapeutik yang semakin diarahkan menuju personalisasi, Veprolin dan agen-agen sejenis dapat berperan sebagai terapi ajuvant yang mengisi celah antara kebutuhan klinis dan keterbatasan terapi molekuler tunggal.
Kombinasi antara agonis FXR atau GLP-1RA dengan standardized herbal drug seperti Veprolin berpotensi menghadirkan efek sinergi terapeutik yang tidak hanya menargetkan aspek metabolik dan inflamasi, tetapi juga memperbaiki konteks ekologis seluler serta memperkuat jalur perbaikan endogen.
Strategi seperti ini mendukung visi baru dalam hepatologi presisi, di mana intervensi ditargetkan berdasarkan fenotipe metabolik, derajat fibrosis, dan risiko komorbiditas kardiometabolik tiap individu.
Meskipun demikian, diperlukan uji klinis skala besar dengan endpoint histologis dan molekuler yang terukur secara objektif untuk menetapkan status terapi jangka panjang VEPROLIN. Kajian farmakokinetika, bioavailabilitas, dan potensi interaksi dengan terapi konvensional juga perlu diperluas.
Namun demikian, bukti preklinik yang telah tersedia memberikan dasar rasional yang kuat untuk mengevaluasi VEPROLIN dalam kerangka pengobatan multimodal dan integratif bagi pasien NAFLD, terutama yang berada pada spektrum ringan hingga sedang, atau yang memiliki keterbatasan akses terhadap terapi biologis berbiaya tinggi.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen NAFLD masa kini harus beranjak dari paradigma reduksionis menuju pendekatan sistemik dan multimodal. Terapi tunggal tidak lagi mencukupi untuk menangani kompleksitas biologis dan heterogenitas pasien NAFLD.
Integrasi antara terapi dengan molekul kecil, agen biologis, modifikasi gaya hidup, serta penggunaan standardized herbal drug seperti VEPROLIN, membentuk fondasi pendekatan terapeutik yang tidak hanya lebih inklusif secara biologis, tetapi juga berkelanjutan secara sosial dan ekonomi.
Dalam kerangka ini, regenerasi hepatik bukan hanya merupakan hasil dari intervensi molekuler, melainkan buah dari sintesis antara farmakologi, nutrisi, dan bioetika klinis yang saling mendukung.Redaksi OMAIdigital.id



















