![]() |
| Inovasi Saintis Indonesia di Pusat Riset OMAI: Semangat Hilirisasi Tiada Henti. |
OMAIdigital.id-Sebentar lagi kita akan merayakan HUT Republik Indonesia ke-81 (17 Agustus 2026). Sudah semestinya kita mengenang jasa-jasa pahlawan kemerdekaan Indonesia.
Pada moment penuh historis ini, kita perlu juga untuk menyemangati para Saintis Indonesia yang hasil karyanya juga sangat berkmakna untuk Indonesia dan bahkan untuk masyarakat dunia.
Yuks kita simak-gegap gempitanya Saintis Indonesia untuk terus berkarya bagi bangsa dan negara, bahkan hasil risetnya kini sukses di pasar global!
Di balik sebutir tablet, kapsul, atau sediaan obat lain yang kita konsumsi, ada perjalanan panjang yang sering kali tidak terlihat.
Perjalanan itu dapat dimulai dari sebuah tanaman yang tumbuh di bumi pertiwi- tanah Indonesia. Dari kebun seorang petani. Dari pengetahuan tentang bagaimana tanaman tersebut dibudidayakan.
Kemudian berlanjut ke laboratorium, tempat para saintis menguji, meneliti, mengukur, dan mencari tahu bagaimana kekayaan alam tersebut dapat dikembangkan menjadi obat yang aman, bermutu, dan memiliki bukti ilmiah dengan standar internasional.
Di titik inilah riset menjadi jembatan antara kekayaan biodiversitas Indonesia dan kebutuhan kesehatan masyarakat dunia.
Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat besar dan menyimpan potensi bahan alam untuk dikembangkan menjadi obat bahan alam.
Kementerian Kesehatan menyebut kekayaan biodiversitas dan kemampuan menyediakan bahan baku sebagai modal penting bagi pengembangan obat bahan alam dan Fitofarmaka. Namun, kekayaan alam saja tidak cukup. Peluang ini membutuhkan ilmu pengetahuan, teknologi, standardisasi, dan ekosistem riset yang kuat.
DARI KEBUN HINGGA LABORATORIUM MODERN

Perjalanan sebuah obat bahan alam sesungguhnya dimulai jauh sebelum bahan tersebut memasuki laboratorium.
Kualitas harus dibangun sejak dari sumbernya.
Tanaman obat tidak cukup hanya tumbuh subur. Jenis tanaman harus tepat, cara budidayanya perlu diperhatikan, waktu panen harus sesuai, proses pascapanen harus dikendalikan, dan bahan bakunya harus memenuhi standar yang diperlukan.
Karena itu, petani bukan sekadar pemasok bahan baku. Mereka merupakan bagian penting dari mata rantai inovasi obat bahan alam.
Pendekatan ini sejalan dengan panduan WHO mengenai Good Agricultural and Collection Practices (GACP) untuk tanaman obat. WHO menekankan bahwa jaminan kualitas dan keamanan bahan obat berbasis tanaman perlu dibangun sejak tahap budidaya dan pengumpulan, sekaligus memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan.
Maka, membangun kualitas bahan baku berarti juga membangun pengetahuan para petani.
Melalui pendampingan, pelatihan, dan penerapan praktik budidaya yang baik, petani dapat memahami bahwa setiap tahap-dari memilih bibit hingga memanen tanaman-ikut menentukan kualitas bahan yang pada akhirnya akan diteliti dan dikembangkan menjadi produk kesehatan.
Di sinilah tercipta sebuah hubungan yang saling menguatkan: petani memperoleh pengetahuan dan peluang ekonomi yang lebih baik, sementara industri mendapatkan bahan baku yang lebih konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
KETIKA SUMBER DAYA ALAM BERTEMU PARA SAINTIS BERBAKAT

Namun, perjalanan belum selesai.
Bahan alam yang berkualitas harus bertemu dengan manusia yang memiliki rasa ingin tahu, kompetensi ilmiah, dan keberanian untuk melakukan penelitian.
Di laboratorium, para saintis menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih kompleks.
- Apa senyawa aktifnya?
- Bagaimana mekanismenya?
- Seberapa konsisten kandungannya?
- Apakah aman?
- Bagaimana efektivitasnya dapat dibuktikan?
- Bagaimana bahan alam tersebut dapat dikembangkan menjadi produk yang memenuhi standar GMP?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadikan riset sebagai jantung pengembangan Obat Modern Alami Integratif (OMAI).
Dalam terminologi regulasi Indonesia, obat bahan alam mencakup antara lain Jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan Fitofarmaka. Fitofarmaka memiliki tingkat pembuktian ilmiah yang lebih tinggi karena keamanan dan khasiatnya dibuktikan melalui uji praklinik dan uji klinik, sementara bahan baku dan produk jadinya distandardisasi.
Artinya, perjalanan dari tanaman menjadi obat bukanlah perjalanan yang sederhana. Ini perjalanan dari alam menuju sains.
DLBS: MEMBANGUN RUMAH BAGI INOVASI OBAT BAHAN ALAM INDONESIA

Semangat itulah yang menjadi fondasi kehadiran Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) Dexa Group sebagai pusat riset yang mendorong pengembangan obat berbahan alam dan inovasi farmasi.
DLBS bukan sekadar tempat melakukan eksperimen di laboratorium. Lebih dari itu, DLBS dapat dipandang sebagai sebuah rumah bagi para saintis berbakat Indonesia-tempat pengetahuan, rasa ingin tahu, teknologi, termasuk AI, yang ditunjang oleh keberanian berinovasi dipertemukan.
Di dalam rumah seperti inilah para ilmuwan dan apoteker membutuhkan ruang untuk bertanya, bereksperimen, berdiskusi, gagal, belajar kembali, dan menemukan sesuatu yang baru Sebab inovasi tidak lahir dari rutinitas semata.
Inovasi lahir ketika manusia diberi kesempatan untuk mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan baru dan mengubah hasil penelitian menjadi sesuatu yang memberikan manfaat nyata.
Karena itu, membangun pusat riset bukan hanya membangun laboratorium dengan instrumen canggih. Yang jauh lebih penting adalah membangun manusia dan budaya risetnya.
Para saintis perlu mendapatkan kesempatan untuk terus belajar, berkolaborasi, mengembangkan kompetensi, dan menghasilkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan kesehatan masyarakat.
DARI INDONESIA UNTUK MASYARAKAT DUNIA

Di sinilah gagasan tentang OMAI menjadi semakin penting. Indonesia tidak kekurangan kekayaan alam. Tantangannya adalah bagaimana mengubah kekayaan tersebut menjadi pengetahuan, inovasi, produk, dan akhirnya manfaat kesehatan yang dapat dirasakan masyarakat.
BPOM mencatat bahwa industri obat bahan alam masih menghadapi tantangan dalam ketersediaan bahan baku dalam negeri yang memenuhi standar keamanan, manfaat, mutu, dan kuantitas secara konsisten. Pada 2022, BPOM menyebut sekitar 25% kebutuhan bahan baku obat bahan alam masih diperoleh melalui impor. Tantangan tersebut justru membuka ruang bagi inovasi.
Jika Indonesia mampu memperkuat budidaya tanaman obat, meningkatkan kualitas bahan baku, memperkuat penelitian, mengembangkan teknologi ekstraksi dan standardisasi, serta mempercepat hilirisasi hasil penelitian, maka biodiversitas tidak berhenti sebagai kekayaan alam. Potensi dapat menjadi kekuatan ekonomi sekaligus kekuatan kesehatan nasional.
Pemerintah sendiri menempatkan pengembangan obat bahan alam dan fitofarmaka sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian industri farmasi nasional. Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya kolaborasi antara peneliti, industri, regulator, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mempercepat pengembangan obat bahan alam.
MEMBANGUN EKOSISTEM, BUKAN SEKADAR PRODUK

Karena itu, masa depan OMAI tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak produk yang berhasil dikembangkan.
Lebih jauh dari itu, masa depan OMAI ditentukan oleh seberapa kuat ekosistem yang dibangun di belakangnya.
- Ada petani yang menjaga kualitas tanaman.
- Ada saintis yang mengungkap potensi khasiat obatnya.
- Ada apoteker yang memahami bagaimana bahan tersebut dapat dikembangkan menjadi produk.
- Ada institusi akademik yang memperkaya pengetahuan.
- Ada industri yang membawa hasil penelitian menuju skala produksi.
- Ada regulator yang memastikan keamanan, mutu, dan manfaat.
Dan pada akhirnya, ada masyarakat yang menunggu hadirnya obat yang aman, bermutu, efektif, dan dapat diandalkan. Inilah sebuah rantai nilai yang panjang.Dan setiap mata rantainya sama pentingnya. Redaksi OMAIdigital.id


















