![]() |
| Program hilirisasi riset Obat Bahan Alam menjadi Obat Herbal Fitofarmaka akan menjadi bermakna jika Fitofarmaka masuk dalam Program JKN BPJS Kesehatan. |
Warisan Herbal Nusantara dalam Lintasan Ilmiah.
Evolusi jamu menjadi fitofarmaka menunjukkan kemajuan riset obat bahan alam di Indonesia.
Indonesia dikenal sebagai negeri mega-biodiversitas, rumah bagi lebih dari 30.000 spesies tanaman, di mana sekitar 1.200 di antaranya telah digunakan sebagai obat tradisional.
Dalam tradisi masyarakat, jamu menjadi bentuk pemanfaatan tanaman obat yang turun-temurun. Namun, di tengah kemajuan ilmu pengetahuan, jamu tak lagi sekadar warisan budaya-ia berevolusi menjadi fitofarmaka, wujud obat herbal modern yang telah teruji secara ilmiah dan klinis.
1. Transformasi Menuju Fitofarmaka: Dari Obat Bahan Alam Menjadi Obat Herbal Modern
Fitofarmaka merupakan sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya telah di standarisasi.
Tambahan mutu dan bukti ilmiah dari Fitofarmaka dibandingkan OHT adalah standarisasi produk jadi dan uji klinik.
Sama halnya dengan standarisasi bahan baku, standarisasi produk jadi dilakukan dengan kontrol kualitas melalui serangkaian pengujian untuk memastikan kandungan aktif dari bahan baku tersebut selalu sama, sehingga khasiat dan keamanannya selalu sama.
Misalnya dengan melakukan pengujian kadar senyawa aktif.
Setelah distandarisasi, sediaan Fitofarmaka dibuktikan khasiat dan keamanannya dengan dilakukan uji khasiat dan toksisitas secara pre-klinik pada hewan uji seperti menci atau kelinci dan uji klinik pada manusia.
Misalnya uji-preklinik efek peningkatan respon imun dari ekstrak meniran pada mencit serta toksisitasnya. Bila lolos uji pra-klinik, maka dilakukan uji klinik pada manusia. Karena pembuktian yang tinggi, maka klaim yang dapat diajukan berada pada level medium sampai tinggi.
Fitofarmaka adalah kelas tertinggi dari produk herbal di Indonesia. Ia berbeda dengan jamu dan obat herbal terstandar (OHT), karena telah melalui:
- Standarisasi mutu bahan baku dan proses produksi
- Uji praklinik (keamanan dan efektivitas pada hewan)
- Uji klinik (keamanan dan efektivitas pada manusia)
Fitofarmaka diproses menggunakan teknologi farmasi modern, diproduksi di fasilitas CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik), dan diakui oleh Badan POM sebagai produk berbasis riset yang dapat diresepkan tenaga medis dan digunakan dalam layanan kesehatan formal.
2. OMAI: Strategi Nasional Mendorong Kemandirian Obat
Sejalan dengan perkembangan fitofarmaka, produsen herbal bersama dukungan pemerintah mengusung konsep OMAI (Obat Modern Asli Indonesia), yaitu Obat Bahan Alam (OBA) Indonesia yang berkhasiat, aman, dan telah melewati uji ilmiah. Obat Baha Alam terdiri atas:
- Jamu
- Obat Herbal Terstandar (OHT)
- Fitofarmaka
OMAI menjadi simbol kedaulatan kesehatan berbasis kekayaan lokal. Dalam peta jalan nasional, fitofarmaka diharapkan menjadi solusi subtitusi impor obat, mendorong inovasi industri farmasi dalam negeri, dan menguatkan daya saing global.
"Pengembangan OMAI, terutama fitofarmaka, merupakan pilar penting dalam agenda transformasi sistem kesehatan nasional."
- Tokoh Nasional Persiet OMAI Prof. Raymond Tjandrawinata
3. Uji Klinis dan Standarisasi: Pilar Validasi Fitofarmaka
Tahapan utama yang harus dilalui agar produk herbal dapat masuk kategori fitofarmaka:
- Standarisasi: Penetapan spesifikasi bahan baku, proses produksi, dan produk akhir.
- Uji Praklinik: Pengujian keamanan dan efektivitas pada hewan percobaan.
- Uji Klinik: Pengujian pada manusia melalui metode ilmiah (randomized controlled trial).
- Registrasi di BPOM: Diberi nomor registrasi khusus sebagai Fitofarmaka.
Contoh produk OMAI Fitofarmaka dari Indonesia:
- Stimuno® (untuk imunomodulator)
- Tensigard® (untuk hipertensi)
- Redacid® - (untuk masalah lambung)
4. Kepercayaan Publik Semakin Meningkat
Menurut survei Alodokter (2023), 45% masyarakat Indonesia menyatakan lebih percaya menggunakan obat herbal dibanding obat sintetis, terutama karena:
- Lebih alami dan minim efek samping
- Warisan budaya yang telah terbukti secara empiris
- Semakin banyak tersedia dalam bentuk modern yang praktis
Sementara itu, data dari BPOM RI menunjukkan bahwa tingkat pemahaman masyarakat terhadap pentingnya keamanan dan mutu obat mengalami peningkatan, dengan Indeks Kesadaran Nasional 2024 mencapai 88,09 poin, naik dari tahun sebelumnya.
5. Dampak Ekonomi dan Dukungan Pemerintah
Pengembangan fitofarmaka sebagai bagian dari OMAI memiliki dampak ekonomi yang signifikan, antara lain:
- Mengurangi ketergantungan impor bahan obat aktif (API)
- Meningkatkan ekspor obat herbal
- Menciptakan peluang kerja baru di sektor riset dan industri
Menurut Kementerian Perindustrian, nilai ekspor industri farmasi dan herbal Indonesia mencapai Rp 9,9 triliun pada 2024.
Masa Depan Fitofarmaka dan Kemandirian Kesehatan
Transformasi jamu menjadi fitofarmaka mencerminkan keberhasilan Indonesia dalam menyinergikan warisan budaya dengan sains modern. Melalui strategi OMAI, pemerintah mendorong kemandirian bangsa dalam menyediakan solusi kesehatan berbasis obat bahan alam yang terstandar, aman, dan efektif.
Untuk mewujudkan ekosistem fitofarmaka yang berkelanjutan, dibutuhkan:
- Kolaborasi riset antara perguruan tinggi, industri, dan lembaga pemerintah
- Infrastruktur produksi yang memenuhi standar internasional
- Edukasi masyarakat untuk meningkatkan literasi tentang obat herbal modern
Dengan langkah strategis ini, fitofarmaka/OMAI bukan sekadar harapan, melainkan bagian dari masa depan sistem kesehatan nasional yang mandiri dan berakar pada kekayaan bangsa sendiri. Redaksi OMAIdigital


















