![]() |
| COACH KARYANTO- Indonesian Retirement Coach, Pionir Program Pensiun Mulia Indonesia. Siapa sangka, selama 10 Tahun pernah menjadi Wartawan... |
"Mengubah Bonus Usia, Menjadi Bonus Ekonomi Nasional"
SEMANGAT ANAK DESA.
Sebagai anak desa yang lahir di Desa Rejosari, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, pada tahun 1961- dari keluarga petani dan pedagang kecil- tidak melemahkan asanya untuk dapat maju dan mendapatkan kehidupan lebih baik- seperti halnya anak-anak yang lahir di kota besar.
Saat sekolah TK hingga SMP Negeri Gorang-Gareng, Magetan, ketika belajar masih menggunakan lampu teplok, karena listrik belum masuk ke desa kami. Baru setelah SMA, listrik dan air PAM sudah masuk di desa kami.
Namun, ketika SMA saya bersekolah di SMPP Nganjuk- Jawa Timur. Semangat untuk berprestasi seperti anak-anak perkotaan, makin kuat, karena saat SMA berada di Kabupaten yang prasarana kota dan lingkungannya lebih modern- dibandingkan ketika sekolah dari TK hingga SMP dulu.
KULIAH DI FARMASI UGM.
Secara hitungan kemampuan ekonomi, memang tidak mungkin untuk melanjutkan kuliah, karena faktor ekonomi keluarga yang kurang mendukung. Namun, saya tetap mencoba dapat kuliah di Perguruan Tinggi Negeri yang waktu itu, biayanya sangat terjangkau.
Untuk memenuhi tekad itu, saya menjual cincin emas pemberian eyang saya- untuk biaya bimbingan test di Surabaya usai lulus SMPP Nganjuk, untuk persiapan test masuk perguruan tinggi.
Seingat saya, selama 3 bulan saya mengikuti bimbingan test di Study Club Surabaya, diantara mentornya adalah mahasiswi Farmasi- yang ketika menjelaskan rumus-rumus kimia, menurut saya jago banget. Dan juga cantik!
Itulah, salah satunya ketika saya mengikuti test masuk perguruan tinggi, akhirnya saya memilih Fakultas Farmasi UGM. Saaat ikut ujian test- waktu itu di Kampus ITS- Kampus baru yang saat itu masih sangat sepi-dan cukup jauh dari tempat saya numpang kos saudara teman sekelas saat SMPP- yaitu di belakang- kawasan Tunjungan Plaza Surabaya.
Beberapa bulan kemudian, pengumuman ujian masuk perguruan tinggi diumumkan melalui koran. Saya pergi ke Nganjuk bertemu teman-teman SMA untuk melihat hasil pengumuman. Alhamdulilah nama saya tercantum dalam lembaran koran itu: "Saya diterima di Farmasi UGM!"
Kebahagiaan seorang anak desa, dapat kuliah di UGM terwujud. Saya sore itu, langsung pulang dari Nganjuk ke Gorang-Gareng dengan bus. Kebayang segera kuliah di UGM, kebayang juga- kapan akan kesulitan biaya kuliah. Ibarat kutub kebahagian, dan kutub kebingungan dalam satu kuadran.
Kulupakan sejenak kutub kebingungan itu, ini saatnya merayakan kutub kebahagiaan. Saya mulai bersiap kuliah di Yogya, mencari kos, mengurus administrasi perkuliahan, dan dengan bangga menggunakan jaket MAHASISWA UGM ketika penerimaan mahasiswa baru.
GAGAL JADI APOTEKER, MEMILIH PROFESI WARTAWAN.
Sesuai prediksi saya, sejak awal secara ekonomi- saya tidak mungkin melanjutkan kuliah. Masa suka cita kuliah di Fakultas Farmasi UGM- di Kampus Biru UGM hanya selama 3 semester.
Sejak semester 4- saya harus mencari biaya sendiri di Yogyakarta. Bersyukurnya, biaya kuliah waktu itu sangat murah, SPP hanya Rp.21.000/semester. Tidak ada biaya lain. Makan satu bulan cukup Rp.30.000 saja. Biaya kos Rp.10.000/Bulan (Rp.120.000/Tahun).
Terima kasih ya Allah, saya diberikan talenta menulis. Padahal tidak pernah belajar kepada siapapun, hanya bermodal membaca dan mengamati waktu itu: Koran Kedaulatan Rakyat (KR), Koran Kompas dan Majalah Tempo, juga jurnal-jurnal di Kampus Farmasi UGM.
Saya amati, bagaimana Koran Kedaulatan Rakyat/Kompas membikin berita. Judulnya, urutan penulisannya, dan gaya bahasanya. Untuk artikel saya baca majalah Tempo- mengamati struktur pola penyajiannya, dan data-data yang dikutip Majalah Tempo.
Dari belajar otodidak itu, saya memberanikan diri menulis artikel di Kedaulatan Rakyat, untuk Rubrik Opini, temanya terkait perkembangan Kefarmasian, dan Kesehatan. Boom tulisan pertama saya langsung lolos, dan dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat. Inilah, rezeki Allah yang sudah dipersiapkan untuk saya, honor menulis dari KR jadi solusi yang penuh berkah.
Sejak itu, saya rajin menulis untuk makan sehari-hari, sebagian ditabung untuk biaya kuliah dan biaya kos. Karena ingin fokus dulu mencari uang, saya cuti kuliah 4 tahun (2 tahun cuti, masuk lagi kuliah 1 semester, cuti lagi 2 tahun)- karena waktu itu peraturan cuti kuliah hanya boleh 2 tahun.
Sambil kuliah saya aktif di pers mahasiswa. Pernah menjadi Pemimpin Umum FARSIGAMA- Majalah Mahasiswa Farmasi UGM (1984-1985), Kemudian naik kelas menjadi Redaksi Majalah Mahasiswa UGM BALAIRUNG (1985-1986)- saat itu saya diajak oleh para rekan-rekan pendiri BALAIRUNG untuk bergabung- sebagai wakil dari Farmasi UGM.
MENJADI WARTAWAN MINGGU PAGI.
Takdir garis tangan saya menjadi wartawan semakin nyata. Saat saya mengambil honor tulisan di KR- saya bertemu dengan wartawan KR. Setelah saya memperkenal diri sebagai mahasiswa Farmasi, wartawan tersebut memperkenal diri namanya Briyanto, juga kuliah di UGM. Seingat saya di Fakultas Filsafat.
Sejak berkenalan itu, saya minta ijin untuk sering ke kosan beliau untuk ‘magang’ jadi wartawan. Saya sering diajak mas Briyanto liputan- waktu itu sering meliput sepak bola, termasuk saat liputan pertandingan bola di Solo- saya juga ikut diajak meliput.
Sekitar 3 bulan- saya cukup sering menginap di kos-kosan beliau. Saya melihat dia mewawancarai narsaumber, melihat dia menulis berita dengan mesin ketik manual, dan setelah itu mengamati berita beliau yang sudah diterbitkan di KR.
Selanjutnya, mas Briyanto mengajak menulis bareng. Saya diminta wawancara sejumlah narasumber yang sudah disepakati, saya menulisnya, dan mas Briyanto merangkumnya. Dari tulisan bersama itu, saya bertambah penghasilannya. Dari menulis artikel sendiri, dan menulis berita bersama dengan mas Briyanto.
Beberapa bulan kemudian, saya dikenalkan dengan Pemimpin Redaksi Koran Minggu Pagi (Kedaulatan Rakyat Group)- mas Hajid Hamzah. Dari perkenalan itu, saya akhirnya dapat menulis rutin di Minggu Pagi dan diberikan kavling rubrik Obat Tradisional di halaman 12- yang menurut mas Hajid banyak diminati pembaca. Sejak itu, saya bergabung di Minggu Pagi- kantornya di KR Kalitirto- dari Yogya ke arah Prambanan.
MENJADI WARTAWAN BISNIS INDONESIA.
Di Fakultas Farmasi UGM, setelah selesai wisuda Program Sarjana Farmasi, dapat melanjutkan ke Program Profesi Apoteker. Saya pun- setelah wisuda Sarjana Farmasi- langsung ikut program apoteker- Alhamdulillah kuliah lancar karena saya sudah mendapat penghasilan tetap menjadi wartawan.
Ditengah ujian semester pertama Program Apoteker- seingat saya- sudah beberapa mata kuliah saya ikut ujian, namun belum semuanya, tiba-tiba saya memilih untuk bergabung menjadi wartawan Bisnis Indonesia- Jakarta.
Pikiran saya waktu itu simpel saja, saya ingin naik kelas menjadi wartawan nasional- karena bekerja di koran nasional, sambil jadi wartawan saya dapat meneruskan program apotker di UI atau universitas lain di Jakarta.
Sip ...! Strategi yang masuk akal. Takdir menjadi wartawan nasional dikabulkan Allah SWT, saya diterima bergabung dengan Bisnis Indonesia- setelah melalui sejumlah test. Akhir Desember 1990- saya berangkat ke Jakarta memulai perjalanan menjadi wartawan ibu kota!
Saya ditugaskan ngepos di Kementerian Keuangan (waktu itu menterinya JB. Sumarlin) dan di Bank Indonesia (waktu itu Gubernur BI-nya: Adrianus Mooy). Sebagai koran ekonomi nasional, berita moneter di Bisnis Indonesia adalah sangat dijadikan unggulan. Tentu saya senang, dan semangat mendapat tugas yang menantang...!
Selama 4 tahun sebagai wartawan keuangan- tentu pengetahuan dan informasi tentang keuangan- lumayan banyak, itulah kelak ketika kelak saya mendapat kesempatan kuliah S2- Saya mengambil Program Magister Manajemen Keuangan di Universitas Pancasila, Jakarta.
Beberapa dosenya- dari Bank Indonesia- yaitu mas Perry Warjiyo. Saya memanggilnya mas, karena memang waktu itu dia masuh yunior di Bank Indonesia, saya banyak kenal dengan para Direktur BI saat itu (1996). Kini mas Perry Warjiyo jadi Gubernur Bank Indonesia (2018-2023 dan 2023-2028).
Karena 4 tahun menggeluti berita keuangan dan pasar modal, memudahkan saya menempuh kuliah S2- jadilah saya lulusan terbaik saat di wisuda tahun 1998. Sebuah Piagam dari Rektor Universitas Pancasila menjadi kebanggaan Ayah dan Ibu saya yang hadir saat wisuda. Namun kuliah S2 ini- saya tempuh setelah saya tidak lagi menjadi wartawan di Bisnis Indonesia, waktu itu saya menjadi Sekretaris Eksekutif GP. Farmasi Indonesia.
PENGALAMAN JURNALISTIK COACH KARYANTO:
- Bisnis Indonesia- Jakarta (1991-1994)
- Kedaulatan Rakyat Gorup- Minggu Pagi- Yogyakarta (1987-1990)
- Majalah Balairung Pers Mahasiswa UGM (1985-1986)
- Majalah Farsigama Pers Mahasiswa Farmasi UGM (1984-1985)
- Anggota Persatuan Wartawan Indonesia- PWI Jakarta (1993)
KEMBALI KE SEKTOR FARMASI, UNTUK BERBAKTI ORANG TUA.
Setiap saya pulang kampung ke Magetan- selama saya menjadi wartawan selalu ditanya oleh eyang saya. Sejak kecil- saya memang ikut eyang. "Kowe lulusan Farmasi koq dadi wartawan to le..?," eyang kakung saya bertanya dalam bahasa Jawa.
Saya jelaskan, bahwa jadi wartawan itu terhormat dapat ketemu pejabat tinggi, saya hampir setiap hari ketemu menteri dan pejabat tinggi lainnya. Demikian saya menjelaskan. Saya juga sampaikan gaji wartawan di Bisnis Indonesia juga lumayan waktu itu.
Bahkan, pada tahun ke-4 saya menjadi wartawan, saya mudik ke kampung dengan mobil relatif baru (beli bekas- tapi baru beberapa tahun di pakai)- sedang toyota starlet kapsul (tahun 1993 akhir)- tergolong mobil yang keren untuk ukuran wartawan muda seperti saya.
Saya juga cerita pada eyang, sudah membeli rumah di Depok walau kecil- tapi rumah baru yang cukup nyaman untuk membesarkan anak-anak. Namun semua cerita itu, tidak menyurutkan munculnya pertanyaan serupa dari eyang saya.
Setiap mudik, saya selalu ditanya, "Kowe sik dadi wartawan to le..."
Sudah tiga kali ini, eyang kakung selalu bertanya dengan hal serupa. Saya berpikir, apa eyang saya kurang bangga dengan profesi saya ini ya? Maklum sebagai orang desa yang hanya sekolah sampai SR kelas 4 dan tidak pernah ke kota- tentu tidak kenal apa itu profesi wartawan.
Beliau hanya tahu, kalau lulusan farmasi itu kerjanya di rumah sakit dan bidang kesehatan lain.
Setelah pulang dari kampung, saya dan istri diskusi, dan pada satu kesimpulan: "Eyang tidak sreg saya jadi wartawan, tidak sebangga saat saya kuliah di UGM dulu..."
Bismillah demi berbakti kepada orang tua- saya ingin mencari kerja di sektor farmasi. Mungkin juga- itu do’a dari orang tua. Beberapa bulan setelah pulang kampung, saya ditawari menjadi Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia oleh Ketua Umum GP. Farmasi.
Dengan gaji 3 kali lipat dari Bisnis Indonesia, tawaran itu saya terima dan saya mengajukan resign menjadi wartawan Bisnis Indonesia. Pertimbangan utamanya: demi membanggakan orang tua. Saat pulang kampung- saya cerita- sudah tidak jadi wartawan lagi kepada eyang.
Padahal yang saya kerjakan di GP. Farmasi bukan menggunakan bidang ilmu Kefarmasian saya- karena saya mengelola Organisasi Pengusaha- tentu yang paling banyak adalah kemampuan saya dalam komunikasi, berorganisasi (lumayan lah dulu aktif di pers mahasiswa, dan unit silat di kampus UGM).
MENJADI PRAKTISI KOMUNIKASI PUBLIK SEKTOR FARMASI.
Saya tujuh tahun sebagai Sekretaris Eksekutif- tentu saya kenal hampir semua pemilik Industri Farmasi dan Pedagang Besar Farmasi yang ada di Jakarta. Selama di GP. Farmasi, saya mengambil kuliah S2- Magister Manajemen Keuangan- untuk menambah kompetensi, dan lulus tahun 1998.
Untuk memanfaatkan kemampuan saya- lebih luas lagi saya resign dari GP. Farmasi dan bergabung disejumlah perusahaan sektor farmasi. Pernah menjadi General Manager Apotik, pernah menjadi Asisten Direktur Perusahaan Alat Kesehatan, dan menjadi Kepala Komunikasi Industri Farmasi - salah satu yang terbesar di Indonesia- hingga saya pensiun pada 1 Desember 2016.
PERJALANAN KARIER COACH KARYANTO:
- Karier Jurnalis Koran Daerah & Nasional (10 Tahun)
- Karier GP. Farmasi Indonesia (Sekretaris Eksekuif- 7 Tahun)
- Karier di Bisnis Apotik (General Manager- 2 Tahun)
- Karier di Bisnis Alat Kesehatan (Asisten Direktur- 2 Tahun)
- Karier di Bisnis Industri Farmasi (Head of Corporate Communication- 11 Tahun)
MENJADI PENSIUNPRENEUR: TRAINER & COACH PENSIUN MULIA INDONESIA.
Saya tahu persis, bisnis yang mudah itu yang sesuai dengan kompetensi dan pensiun, serta memiliki jejaring di bidang tersebut. 1 Januari 2017- saya membangun platform digital media online khusus Jamu (JamuDigital).
Sebagai wartawan sekitar 10 tahun, tentu ini kompetensi saya mengelola konten berita, sebagai praktisi komunikasi publik korporasi- saya sudah biasa mengelola platform digital untuk publikasi.
Sambil mengelola JamuDigital- saya upgrade diri dengan observasi herbal di 15 Negara, menjadi pembicara nasional tentang herbal, menulis sejumlah Buku dan eBook. Tentu upgrade diri dengan memperoleh Sertfikasi sebagai Trainer dari Badan Nasional Sertifikasi Republik Indonesia (2018)- sebagaimana kompetensi saya selain menulis.
Tahun 2021- saya meluncurkan produk obat herbal NISTEO- untuk kesehatan Otot, Tulang, dan Sendi. Serta minyak Boreh Nokilkir- untuk terkilir dan nyeri otot. Namun- karena tidak mampu mengurus pemasarannya- produksi NOSTEO dan NOKILIR saya hentikan pada Januari 2026.
Program Pensiun Mulia & Silver Economy Indonesia.
COACH KARYANTO- Sukses mendampingi pensiunpreneur 1.200+ (sejak Agustus 2025), mereka antara lain: Profesor, Komisaris Utama BUMN, ASN Eselon 1, Bankir Senior, Direktur Perusahaan Swasta, Dokter Spesialis, Dosen, Guru, Pengusaha UMKM, dan banyak profesi strategis lainnya.
Ingin tetap berkontribusi sesuai kompetensi dan passion, berharap menjadi ladang kebajikan tanpa batas.
PIONIR PENSIUNPRENEUR- SEJAK DESEMBER 2016:
- Founder JamuDigital/OMAIdigital- Pionir MediaOnline Jamu & OMAI (Obat Modern Asli Indonesia)
- Observasi Potensi Herbal di 15 Negara
- Menulis 17 Judul Buku/eBook- beberapa viral pada 2021 & 2024
- Diundang Pembicara +125 Event Nasional & beberapa di Luar Negeri
- Pionir Program Pelatihan Personal Branding Tenaga Kesehatan
- Pionir Program Training, Coaching & Personal Branding Pensiun Mulia Indonesia
*) Penulis: COACH KARYANTO- Indonesian Retirement Coach, Pionir Program Pensiun Mulia.




















