Lampu Hijau DPR: Fitofarmaka Masuk BPJS, Herbal Modern Indonesia Siap Tembus Eropa dan Amerika
Tanggal Posting : Senin, 1 Juni 2026 | 09:00
Liputan : Redaksi OMAIdigital - Dibaca : 127 Kali
Lampu Hijau DPR: Fitofarmaka Masuk BPJS, Herbal Modern Indonesia Siap Tembus Eropa dan Amerika
Fitofarmaka Masuk BPJS mendorong kemandirian obat nasional, ditengah gejolak geopolitik dunia.

OMAIdigital.id. Rencana pemerintah memasukkan Obat Bahan Alam Fitofarmaka ke dalam skema pembiayaan BPJS Kesehatan mendapat lampu hijau dari Senayan. Produk Obat Fitofarmaka Indonesia ini telah sukses dipasarkan di ASEAN, kini siap menembus pasar Eropa dan Amerika.

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher menegaskan bahwa langkah ini dapat menjadi game changer bagi kemandirian kesehatan Indonesia, sekaligus momentum emas untuk mengangkat industri herbal nasional ke level yang lebih tinggi: berbasis riset dan bukti ilmiah!

"Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas dan tradisi pengobatan herbal yang besar. Namun jika ingin masuk ke sistem pelayanan kesehatan nasional dan pembiayaan BPJS, maka standar ilmiah, keamanan, dan efektivitas harus menjadi prioritas utama," tegas Netty dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 30 Mei 2026.

Netty meluruskan persepsi publik yang mungkin mengira semua jenis jamu akan otomatis masuk tanggungan JKN. Ia menegaskan, hanya produk dengan kategori fitofarmaka - obat herbal yang sudah lulus uji klinis lengkap-yang layak dibiayai negara.

"Jangan sampai masyarakat salah memahami seolah semua jamu akan ditanggung BPJS. Yang harus dikedepankan adalah produk yang benar-benar teruji secara ilmiah, aman, dan bermanfaat bagi pasien," kata politisi dari PKS itu.

BPOM membagi OBA dalam tiga kategori: Jamu, Obat Herbal Terstandar, dan Fitofarmaka. OBA Fitofarmaka telah memiliki data uji klinis pada manusia.

Bagi industri OBA , kebijakan ini dinilai Netty sebagai stimulus penting. Selama ini, pengembangan Fitofarmaka terganjal biaya riset yang mahal dan waktu penelitian yang panjang.

"Pengembangan Fitofarmaka membutuhkan investasi besar, waktu panjang, dan proses penelitian yang tidak sederhana. Karena itu negara perlu menghadirkan ekosistem yang memberi kepastian bagi industri tanpa mengorbankan keselamatan pasien," jelasnya.

Artinya, jika fitofarmaka resmi masuk formularium BPJS, ada jaminan pasar yang jelas bagi produsen. Ini bisa memicu lebih banyak perusahaan dan kampus untuk serius menggarap riset herbal.

Penguatan Ekosistem dari Hulu ke Hilir

Netty mendorong agar momentum ini dibarengi penguatan riset nasional secara menyeluruh. Kuncinya adalah kolaborasi lintas sektor: kementerian, perguruan tinggi, industri farmasi, dokter, hingga petani bahan baku herbal.

"Kita perlu membangun ekosistem dari hulu sampai hilir. Mulai dari kualitas bahan baku, standardisasi produksi, riset klinis, sampai literasi tenaga kesehatan terhadap pemanfaatan obat bahan alam berbasis ilmiah," kata Netty lebih lanjut.

Netty mencontohkan, bahan baku herbal Indonesia harus punya standar budidaya dan pascapanen yang jelas, agar khasiatnya konsisten. Tenaga kesehatan juga perlu diedukasi agar dapat meresepkan Fitofarmaka secara tepat.

Meski mendukung, Netty mengingatkan satu hal yang tak boleh dilupakan: efisiensi pembiayaan JKN. Masuknya Fitofarmaka tidak boleh membebani keuangan BPJS yang selama ini masih jadi sorotan.

"Tujuan utama sistem kesehatan adalah keselamatan dan kualitas layanan pasien. Karena itu seluruh kebijakan harus berbasis evidence-based medicine dan tata kelola yang akuntabel," pungkasnya.

Jika kebijakan ini berjalan segera, Indonesia tak hanya dapat mengurangi ketergantungan impor obat kimia, tetapi juga menjadikan herbal sebagai salah satu pilar ketahanan kesehatan nasional. Namun semua kembali ke satu syarat: harus ilmiah, aman, dan terbukti manjur.

Mengapa Kebijakan Fitofarmaka Masuk BPJS ini Ini Penting:

1. Kemandirian Obat: RI masih impor 90% bahan baku obat kimia. Fitofarmaka bisa jadi solusi mengurangi defisit neraca farmasi.

2. Potensi Ekonomi: Pasar herbal global diproyeksikan tembus USD 550 miliar pada 2030. Indonesia baru menguasai kurang dari 1%.

3. Warisan Budaya: Jamu sudah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda. Masuknya OBA yang sudah terbukti ilmiah ke sistem formal JKN adalah bentuk pengakuan negara. (Sumber: https://liranews.com/obat-herbal-masuk-bpjs-netty-aher-dorong-fitofarmaka-naik-kelas-tapi-syaratnya-ketat/)

OMAI Fitofarmaka Sukses Masuk ASEAN, Kini Siap Menembus Pasar Eropa

Prof. Raymond R. Tjandrawinata- Direktur Eksekutif DLBS dalam Webinar Riset Jamu, Inovasi industri, dan Pengembangan Fitofarmaka Indonesia yang diselenggarakan Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional (PR BBOOT) - BRIN- dalam rangka Hari Jamu Nasional 2026, pada Jumat, 29 Mei 2026- mengungkap bahwa produk OMAI Fitormaka Dexa Group sedang beroroses masuk pasar Eropa dan Amerika.

Selama ini, produk Obat Modern Alami Integratif (OMAI) Dexa Group- telah sukses diresepkan puluhan ribu dokter di kawasan ASEAN, dan prospeknya makin besar di masa datang.

Potensi Pasar OMAI FitoFarmaka & Dampak Internasional/Nasional, Jika Fitofarmaka Masuk Sistem JKN

Menurut Prof. Raymond R. Tjandrawinata, Business Development and Scientific Affairs Director PT Dexa Medica dan Guru Besar Kehormatan Bioteknologi Farmasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, ada 4 Potensi Pasar OMAI Fitofarmaka:

• JKN BPJS: Pasar Terbesar di Indonasia > 200 Juta, Kendala InaCBGS & Klaim Obat ke BPJS
• Asuransi Swasta: Belum Dlakui sebagai "Obat" dianggap Jamu, Resep Belum dapat di Klnim ke Asuransi
• Dinkes Puskesmas: Sudah mulai digunakan DAK di 2022, Obat Kronis Masih Tarkandala (JKN)
• Out of Pocket: Sudah banyak dokter meresepkon, Pasien maunya gratis ke JKN

Sedangkan dampak Internasional dan Nasional, apabila Fitofarmaka masuk dalam Sistem JKN, adalah sebagai berikut:

1.Meningkatkan Penerimaan Internasional. Masyarakat Internasional akan melihat dulu pemanfaatan Fitofarmaka di Indonesia sebelum dapat mereka terima. Penggunaan FitoFarmaka Indonesia di luar negeri akan menjadi sumber peningkatan Devisa negara.

2.Memajukan Ekonomi Nasional. Peningkatan penggunaan FitoFarmaka dalam sistem kesehatan nasional (termasuk BPJS) akan meningkatkar volume produksi, menurunkan Harga Pokok Penjualan (HPP), dan memajukan perekonomian nasional (mulai dari level Petani bahan alam).

Menjadi pendorong bagi peneliti dan industri obat herbal lainnya untuk lebih agresif memajukan riset dan pengembangan obat bahan alam sehingga semakin kemandirian Obat di Indonesia segera terwujud.

3.Visi Integratif. Diperlukan sistem kesehatan integratif yang membuka ruang bagi penggunaan obat-obat biodiversitas alam di fasilitas kesehatan formal.

Rantai Pasok & Berdayakan Ribuan Petani

Lebih lanjut Prof. Raymond menjelaskan, untuk itu perlu adanya, "Jaminan rantai pasok dan ketersediaan Fitofarmaka. Selain itu, juga memberdayakan ribuan petani di Seluruh Indonesia," ungkap Prof. Raymond dalam paparan ilmiahnya beberapa waktu lalu.

Kemudian disebutkan, bahwa Anugrah Amartha Global (AAG) bagian dari Dexa Group Manufacturing yang didedikasikan untuk memproduksi Obat Bahan Alam dengan kapasitas per tahun: Ekstrak (API): 35 ton Oral Tablet/Kapsul: 1 milyar Oral Liquid: 34 juta botol.

Rantai pasok bahan alam yang terkualifikasi untuk memastikan konsistensi mutu dan pasokan. Dexa Medica Site Cikarang didedikasikan untuk memproduksi Ekstrak Bahan Alam dengan teknologi fraksinasi modern sesuai dengan Regulasi CPOB dan CPOTB terkini.

Sedangkan AAM (Perusahaan Distributor Dexa Group) memiliki jaringan distribusi ke seluruh pelosok negeri dengan 2 pusat distribusi nasional, 35 kantor cabang, 35 gudang retail dan didukung oleh 3 kantor perwakilan serta 60 titik penjualan untuk melayani segmen apotek, rumah sakit, toko obat, modern outlet dan lainnya.

Jaminan rantai pasok dan ketersediaan distributor tersebut, sangat penting ketika OBA Fitofarmaka- yang dikenalkan beberapa tahun terakhir sebagai OMAI- Obat Modern Alami Integratif masuk dalam sistem JKN BPJS Kesehatan. Redaksi OMAIdigital.id


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2026. All Right Reserved

@omaidigital.id

MENULIS sesuai FAKTA, MENGABARKAN dengan NURANI

Istagram dan Youtube: