Policy Brief BRIN: 3 Alternatif Rekomendasi Riset Fitofarmaka. Salah Satunya Fitofarmaka Masuk JKN
Tanggal Posting : Selasa, 19 Desember 2023 | 06:51
Liputan : Redaksi OMAIdigital.id - Dibaca : 1355 Kali
Policy Brief BRIN: 3 Alternatif Rekomendasi Riset Fitofarmaka. Salah Satunya Fitofarmaka Masuk JKN
Salah satu alternatif solusi yang direkomendasi dalam riset Fitofarmaka adalah memasuk Fitofarmaka ke dalam Sistem JKN.

OMAIdigital.id-  Para peneliti dari BRIN menyampaikan policy brief dan juga memberikan rekomendasi tiga hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan kendala riset kandidat Fitofarmaka. Apa saja rekomendasi alternatif solusi yang ditawarkan?

Riset untuk menemukan kandidat Fitofarmaka memiliki 3 kendala besar yang harus diatasi oleh para stakeholders, sehingga jumlah Obat Bahan Alam (OBA) Kategori Fitofarmaka dapat segera meningkat. Semakin banyak jumlah Fitofarmaka akan semakin banyak peluang para dokter meresepkan Fitofarmaka di Pelayanan Kesehatan di seluruh Indonesia.

Hilirisasi hasil riset OBA menjadi Fitofarmaka harus berkesinambungan sehingga jumlah Fitofarmaka untuk berbagai penyakit tersedia lengkap di tanah air.

Fitofarmaka pada beberapa tahun ini dikenalkan sebagai Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) yang telah melalui uji pra klinis dan uji klinis, sehingga khasiatnya telah terbukti secara ilmiah. OMAI Fitofarmaka sekarang sudah dapat diresepkan para dokter di Pelayanan Kesehatan Nasional, dan juga para dokter di berbagai negara.

Dikutip dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional, Direktorat Perumusan Kebijakan Riset, Teknologi, dan Inovasi, No.2023-01.BRIN. © Badan Riset dan Inovasi Nasional, ISSN No.2502-5015. REVITALISASI RISET OBAT BAHAN ALAM (OBA): KUNCI MENUJU PERCEPATAN PENEMUAN KANDIDAT FITOFARMAKA. Policy Brief Kebijakan Riset, Teknologi, dan Inovasi. Penulis: Setiowiji Handoyo*, Rosita Riris Puspitosari, Poppy Indah Dwi Prastiti, Rizki Firmansyah, Anwar Tri Anafi, Yani Sofyan, Erry Ricardo Nurzal, Santosa Yudo Warsono, Lenggogeni

Policy brief ini memberikan rekomendasi tiga hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut, yaitu:

1.Pertama, BRIN perlu menetapkan prioritas riset Fitofarmaka yang mengacu pada penyakit sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia dan juga mempertimbangkan harga kompetitor obat kimia yang sudah tersedia di pasar.

Beberapa hal yang menjadi perhatian dan pertimbangan industri dalam memanfaatkan hasilhasil riset obat, yaitu: a. Mempunyai mekanisme kerja yang baik; b.Mempunyai efektifitas yang baik; c. Harus dapat diterima pasar; dan d.empunyai ongkos produksi yang cukup rendah.

Oleh karena itu, BRIN perlu lebih emfokuskan sumber daya riset berupa SDM, pendanaan, infrastruktur untuk melakukan riset Fitofarmaka dalam mengatasi penyakit-penyakit yang menjadi penyebab kematian di Indonesia. Dengan lebih mengarahkan riset Fito farmaka ke arah penyakitpenyakit di Indonesia, hasil riset Fitofarmaka berpotensi masuk ke dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menjadi rujukan pemerintah dan BPJS untuk memberikan obat kepada pasien.

Masuknya Fitofarmaka ke dalam sistem JKN akan membuat jaminan pasar dan dapat menarik minat industri untuk bekerja sama dan memanfaatkan hasil riset dan pengembangan Fitofarmaka.

2.Kedua, BRIN perlu menyusun dan menetapkan peta jalan (roadmap) program dan kegiatan riset Fitofarmaka secara terintegrasi antar Organisasi Riset dan Pusat Riset.

Sinergi dan kolaborasi perlu dilakukan dalam penyusunan tema/topik riset yang bersifat top down dan terintegrasi antar OR dan PR mengacu pada kebutuhan pemangku kepentingan (industri). Adanya peta jalan dapat menjadi pedoman agar pelaksanaan riset tidak tumpang tindih dan berjalan sendiri-sendiri, sehingga riset dapat menjaring apa yang dibutuhkan oleh pengguna.

Penyusunan dan penetapan peta jalan tema/topik riset perlu dilakukan untuk memastikan bahwa kegiatan riset sesuai dengan target yang ditetapkan dan ketika terjadi perubahan kelembagaan kegiatan riset tetap berjalan sesuai dengan peta jalan yang sudah ditetapkan. Kompetisi tetap dapat dilakukan namun ada tema besar yang menjadi tujuan bersama, terintegrasi, dan menjadi prioritas untuk mendapat dukungan riset.

3.Ketiga, BRIN perlu melakukan penguatan kapasitas dan kompetensi periset dalam menggunakan metode/teknik terkini riset Fitofarmaka.

Riset Fitofarmaka umumnya dilakukan melalui eksplorasi dan identifikasi bahan alam terlebih dahulu untuk kemudian diekstraksi guna mengetahui kandungan zat aktif. Padahal, secara alami semua jenis bahan alam memiliki peluang yang sama untuk digunakan sebagai sumber bahan baku Fitofarmaka. Oleh karena itu, identifikasi fraksi-fraksi dari bahan alam merupakan hal yang lebih penting untuk dilakukan karena akan menentukan sebagai kandidat Fitofarmaka.

Metode riset OBA yang saat ini sudah diterapkan oleh periset di industri dan lebih cepat waktu yang diperlukan mulai dari riset hingga komersialisasi selama 8 tahun dalam menghasilkan Fitofarmaka adalah melalui modern pharmacological techniques (Tjandrawinata, 2023). Teknik ini menggunakan pendekatan identifikasi penyakitnya terlebih dahulu.

Gen-gen apa saja yang mempengaruhi sehingga penyakit tersebut bisa terbentuk yang kemudian dijadikan protein target dimana obat bahan alam bisa bekerja, sebagaimana dijelaskan pada Gambar 4 berikut. Metode/teknik ini dapat menjadi solusi guna mempercepat proses riset penemuan kandidat Fitofarmaka.

Oleh karena itu, BRIN perlu meningkatkan kapasitas dan kompetensi periset agar mampu untuk menggunakan metode tersebut. Metode ini dapat dijadikan sebagai platform utama dalam riset penemuan obat dalam mengatasi permasalahan ketergantungan impor bahan baku bagi industri farmasi. Redaksi OMAIdigital.id


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2026. All Right Reserved

@omaidigital.id

MENULIS sesuai FAKTA, MENGABARKAN dengan NURANI

Istagram dan Youtube: